Jet-jet Tempur Israel Bombardir Suriah
Jet-jet tempur Israel telah membombardir wilayah Suriah selatan pada Selasa malam. Militer Zionis mengeklaim serangan udaranya menargetkan lokasi militer yang berisi senjata.
Agresi ini terjadi beberapa hari setelah Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyerukan demiliterisasi wilayah tersebut.
Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR) mengatakan setidaknya dua orang tewas akibat serangan udara di salah satu lokasi, yakni markas besar unit militer Suriah di barat daya Damaskus.
Kelompok pemantau perang tersebut tidak dapat memastikan apakah korban adalah warga sipil atau militer Suriah.
"Selama beberapa jam terakhir, IDF (Pasukan Pertahanan Israel) menyerang target militer di Suriah selatan termasuk pusat komando dan beberapa lokasi yang berisi senjata," kata IDF dalam sebuah pernyataan, tanpa menyebutkan lokasi pasti serangan tersebut.
"Kehadiran pasukan dan aset militer di bagian selatan Suriah menimbulkan ancaman bagi warga Israel. IDF akan terus beroperasi untuk menghilangkan ancaman apa pun terhadap warga negara Israel," lanjut IDF.
SOHR mengatakan dua lokasi militer di selatan ibu kota Suriah menjadi sasaran. Koresponden AFP melaporkan ledakan keras dan pesawat tempur terbang di atas kota tersebut.
"Pesawat Israel melakukan empat serangan di markas besar unit militer di barat daya Damaskus. Bersamaan dengan itu, serangan Israel lainnya menghantam posisi militer di provinsi Daraa," imbuh SOHR, yang dilansir AFP, Rabu (26/2/2025).
Serangan di provinsi Daraa menghantam Tell al-Hara, puncak bukit strategis yang menghadap ke wilayah luas Golan dan Israel utara, menurut SOHR.
Demilitarisasi Total
Serangan terbaru terjadi setelah Netanyahu mengatakan pada hari Minggu bahwa Suriah selatan harus didemiliterisasi total, memperingatkan bahwa Israel tidak akan menerima kehadiran pasukan pemerintah baru yang dipimpin kubu Islamis Suriah di dekat wilayahnya.“Kami tidak akan mengizinkan pasukan dari organisasi HTS atau tentara Suriah baru memasuki wilayah selatan Damaskus,” kata Netanyahu, merujuk pada kelompok Islamis Hayat Tahrir al-Sham yang mempelopori serangan yang menggulingkan rezim Bashar al-Assad pada bulan Desember.
“Kami menuntut demiliterisasi total Suriah selatan, termasuk provinsi Quneitra, Daraa dan Suwayda,” katanya.
Pada hari yang sama saat Assad digulingkan, Israel mengumumkan bahwa pasukannya memasuki zona penyangga yang dipatroli PBB yang telah memisahkan pasukan Israel dan Suriah di Dataran Tinggi Golan yang strategis sejak 1974.
Israel merebut sebagian besar Dataran Tinggi Golan dari Suriah dalam perang tahun 1967, kemudian mencaplok wilayah tersebut dalam sebuah tindakan yang sebagian besar tidak diakui oleh masyarakat internasional.
Netanyahu mengatakan bahwa pasukan Israel akan tetap berada di zona penyangga untuk jangka waktu yang tidak terbatas. "Untuk melindungi masyarakat kami dan menggagalkan ancaman apa pun," katanya.
Israel telah melakukan ratusan serangan di Suriah selama perang saudara yang pecah di negara itu sejak 2011, terutama terhadap target yang terkait dengan Iran.
Setelah serangan kilat yang menggulingkan Assad, Israel melakukan ratusan serangan udara lagi terhadap aset militer Suriah dalam apa yang dikatakannya sebagai upaya untuk mencegahnya jatuh ke tangan musuh.
Sebelumnya pada hari Selasa, peserta konferensi dialog nasional Suriah menolak apa yang mereka katakan sebagai pernyataan "provokatif" oleh Netanyahu.
Dalam pernyataan penutupnya, mereka juga meminta masyarakat internasional untuk menekan Israel agar menghentikan segala “agresi dan pelanggaran”, sembari mengutuk serangan Israel ke wilayah Suriah.