Tingkatkan Kolaborasi Industri Pertambangan dan Mineral, Aspebindo Gelar Indonesia Energy Outlook 2025

Tingkatkan Kolaborasi Industri Pertambangan dan Mineral, Aspebindo Gelar Indonesia Energy Outlook 2025

Ekonomi | inews | Jum'at, 28 Februari 2025 - 09:11
share

JAKARTA, iNews.id - Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (Aspebindo) menggelar Indonesia Energy Outlook 2025 dan diskusi panel dalam rangka Rapat Kerja Nasional, di Park Hyatt, Jakarta, Kamis (27/2/2025). 

Ketua Umum Aspebindo Anggawira saat membuka acara tersebut mengatakan bahwa tujuan Rakernas yang digelar asosiasi industri energi pertambangan dan mineral yang dinahkodainya adalah untuk mengolaborasikan setiap elemen dalam industri energi pertambangan dan mineral, mulai dari investor, industri, hingga perusahaan penyedia kebutuhan industri.       

"Saat ini anggota asosiasi ini semakin beragam dan lintas sektor, dari mulai yang bergerak dalam pertambangan mineral hingga supply chain BBM. Aspebindo menjadi wadah untuk menghadapi tantangan industri ini. Kami yakin kolaborasi sebagai tujuan dari rakernas ini bisa jadi jembatan bagi semua elemen untuk mewujudkan meningkatkan produksi energi pertambangan dan migas," ujarnya.

Menurut Anggawira, sesuai dengan kebijakan pemerintah di bidang energi dan sumber daya mineral, bangsa Indonesia harus melakukan percepatan untuk seluruh proses peningkatan produktivitas dan hilirisasi sumber-sumber energi. 

"Sebagai organisasi industri yang bergerak di bidang energi pertambangan dan mineral, Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (Aspebindo) siap berkolaborasi untuk mendukung program Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto," katanya. 

Indonesia Energy Outlook 2025 terdiri dari tiga sesi diskusi panel bertajuk 'Regulatory Reform for Upstream Oil dan Gas Unlocking Investment Opportunity and Legal Certainty'. Pada diskusi panel sesi pertama menghadirkan para pemateri yang berkompeten di bidangnya, di antaranya Kathy Wu, Regional President Asia Pacific Gas & Low Carbon Energy (G & LCE) British Petroleum; Staf Khusus (Stafsus) Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Nanang Abdul Manaf; Wakil Ketua Umum Aspebindo Fathul Nugroho, dan; Asep Samsul Arifin, VP Upstream Business Planning & Portfolio, Management PT Pertamina Hulu Energi. 

Kathy Wu yang mendapat giliran pertama memaparkan materinya menilai Indonesia adalah salah satu negara yang penting dalam industri energi dan sumber daya mineral. Oleh karena itu, agar dapat memaksimalkan potensi sumber daya alam dan menarik investasi asing, menurutnya pemerintah perlu menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui kebijakan yang tepat.

Dia mengambil contoh succes story Meksiko yang menerapkan  kebijakan dan regulasi, fiskal yang atraktif dan fleksibel, dan pemberian insentif dalam menarik investasi asing ke dalam industri energi dan sumber daya minera.

"Perbaikan kebijakan dan regulasi sangat penting untuk mendorong investasi asing masuk ke industri energi dan sumber daya mineral Indonesia. Pertimbangan lainnya adalah keamanan dan pemberian insentif," ujar Kathy.

Terkait investasi migas, Nanang Abdul Manaf mengatakan investor luar negeri di dalam industri pertambangan sangat diperlukan oleh industri hulu minyak dan gas (migas) karena memang karakteristik industri migas adalah sangat high investment, high risk, dan high technology. 

"Pertamina pernah mengebor sumur yang memakan waktu hingga satu tahun dengan biaya triliunan, namun ternyata dry hold. Jadi industri ini sangat high risk dan high investasi, dan high technology. Kalau mendanai sendiri Pertamina nggak akan mampu. Saking besarnya risiko dan investasi yang diperlukan untuk industri ini, kita butuh investasi luar negeri, perlu berkolaborasi dengan berbagai pihak," katanya.

Foto bersama usai diskusi panel dalam rangka Rakernas Aspebindo di Park Hyatt, Jakarta, Kamis (27/2/2025). (Foto: iNews Media Group/Aldhi Chandra Setiawan)

Lebih lanjut, Nanang Abdul Manaf juga menyepakati pandangan Kathy tentang kepastian regulasi dan tingkat keamanan guna meminimalisir risiko. Untuk meningkatkan investor dari luar negeri, kata Nanang, pertama-tama harus meningkatkan prospektivitas eksplorasi di Indonesia. 

"Prospektivitas eksplorasi adalah penyediaan data, hasil studi-studi yang komprehensif dan terintegrasi sehingga risiko untuk kegagalan atau dry hold itu diperkecil. Prospectivity sangat penting kalau mau mendatangkan investor asing," tuturnya.

Sementara itu, Fathul Nugroho menyoroti tentang industri hulu migas yang memiliki tantangan dan risiko sangat besar, nilainya hingga miliaran dollar. Pertamina berkompetisi dengan negara-negara di seluruh dunia. 

"Saat ini investasi luar negeri untuk industri migas di sektor hulu kebanyakan ke Amerika Utara, sekitar 40 persen, di Middle East sekitar 20-30 persen, sisanya 30 persen ke seluruh dunia. Kita memperebutkan sisa investasi yang sebesar 30 persen tersebut," tuturnya.

Karena itu, menurut Fathul, fiskal dan insentif yang ditawarkan Indonesia harus bisa menarik international oil company. "Agar bagaimana mereka melakukan eksplorasi dan mendevelop lapangan-lapangan frontier dan marginal yang ada di Indonesia," ujarnya.

Saat ini permasalahan utama yang dihadapi industri migas Indonesia adalah lifting decline yang disebabkan penurunan produksi, dan teknologi yang sudah ketinggalan. Dalam sepuluh tahun terakhir terjadi penurunan produksi minyak 3 persen.

"Kita harus genjot eksplorasi agar menemukan cadangan baru untuk meningkatkan produksi. Kita masih bisa produksi 500 ribu barel per hari sampai tahun 2030. Untuk mencapai 1 juta barel per hari perlu dilakukan percepatan Enhance Oil Recovery (EOR). Tantangannya adalah investasi dan regulasi. Kita berharap ada perbaikan tata kelola, dan segera revisi UU Migas." 

Sementara Asep Samsul Arifin, VP Upstream Business Planning & Portfolio Management PT Pertamina Hulu Energi, mengatakan, sebagai investor, saat ini wilayah kerja Pertamina Hulu Energi sebanyak 26 persen  ada di dalam negeri, beberapa persen lainnya di luar negeri.  "Dari 26 persen tersebut kami menyumbang sekitar 63 persen produksi nasional," katanya.

Tantangan lainnya yang dihadapi Pertamina menurut Asep adalah teknologi yang tertinggal. Yang bisa dilakukan sekarang adalah memelihara dan men-develop sumur eksisten yang sustainable produksinya.  

Topik Menarik