Misteri Nisan Abad 15 Penyebar Agama Islam Pertama di Malang Raya

Misteri Nisan Abad 15 Penyebar Agama Islam Pertama di Malang Raya

Nasional | okezone | Senin, 31 Maret 2025 - 21:05
share

MALANG - Islam konon sudah masuk ke Malang Raya sejak abad 15 Masehi selepas Kerajaan Majapahit meredup. Saat itu bersamaan dengan mulai meredupnya pengaruh Kerajaan Majapahit dan kian berkembangnya Kesultanan Demak.

Wali Songo yang jadi penyebar agama Islam juga mulai tampak mengambil perannya dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa. Periode awal masuknya Islam di Malang raya ditandai dengan penemuan batu nisan di daerah Ngantang, yang diidentifikasikan sebagai salah satu tokok penyebar islam.

Sejarawan Universitas Negeri Malang (UM), Najib Jauhari menyatakan, batu nisan itu diidentikkan dengan Situs Pandarejo. Dimana oleh masyarakat dikenal sebagai makam Mbah Sentana, yang ada di Dusun Gagar, Desa Pandarejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. 

"Punden ini berupa timbunan batu kali setinggi 0.79 m dengan nisan kepala dan kaki dari baru andesit dengan orientasi utara-selatan. Makam tersebut terletak di dataran tinggi, di bawah sebuah pohon besar yang dikenal sebagai pohon Prih ficus relegiosa," kata Najib Jauhari dikonfirmasi, Selasa (1/4/2025).

Menurutnya, makam diduga merupakan penyebar Islam pertama di wilayah Malang raya itu terlihat dari karya ilmiah disertasi Moehamad Habib Mustopo, yang tersimpan di perpustakaan UM. Dimana dari kajian keilmuan, diduga kuat seseorang yang dimakamkan di sana merupakan satu zaman dengan Wali Songo.

"Itu yang masih sezaman dengan Wlai Songo, di Ngantang, itu periode awal cuma nisan satu saja. Itu makam tertua abad 15, tapi belum ada komunitasnya (warga)," ucapnya.

 

Makam itu memang identik dengan seseorang beragama Islam. Sebab saat itu pengaruh Hindu Buddha masih kuat, dimana kedua agama itu tidak mengenal manusia yang meninggal dikebumikan atau dikuburkan. Maka asumsi berdasarkan catatan sejarah yang ada, makam sepanjang 2,19 meter dengan tinggi nisan 0,79 meter, lebar atas 0,44 meter, lebar bawah 0,40 meter, dan ketebalan nisan 0,20 meter, identik dengan makam seseorang.

"Pada nisan ini terdapat angka tahun 1371 Saka, atau 1449 M. berhuruf Jawa Kuno, serta hiasan segi tiga sama kaki berjumlah 10 buah. Tinggi ragam hias tumpal 0.44 m dan lebar 0.9 meter. Angka huruf Jawa kuno dipahat dengan gaya timbul (relief)," ucap akademisi dosen Sejarah UM ini.

"Sedangkan ragam hias di bawah angka tahun berupa deretan 10 segi tiga sama kaki (tumpal) dengan teknik pahat goresan (incised). Pada bagian kanan bawah terdapat inskripsi yang dipahat vertikal, berlawanan dengan angka tahun nisan yang dipahat secara horisontal," tambahnya.

 

Meski demikian, penjelasan dan catatan sejarah itu masih menjadi misteri sosok siapa makam itu. Najib menduga bisa saja pendatang dari daerah lain di luar Malang raya, yang kemudian meninggal dunia di sekitar sana dan dimakamkan di sana. 

"Di situ (Ngantang) belum ada komunitasnya, kalau komunitas itu di Troloyo, Mojokerto, banyak makam dan periodenya tahunya juga jelas, seperti masyarakat, itu kan jelas, ini (di Ngantang) nggak jelas periodenya," terangnya.

Namun yang jelas selain di Ngantang, ada dua makam serupa yang jadi saksi persebaran Islam di Malang raya era jawa kuno. Satu makam dikaitkan dengan penyebar agama Islam berada di wilayah Sengguruh, selatan Kepanjen, Kabupaten Malang, dan satu lagi di daerah Pujon, Kabupaten Malang.

"(Identifikasi makam tua menandakan Islam tersebar) Di Pujon satu, Ngantang satu, di Malang selatan ada makam juga, Sengguruh ada dua makam," pungkasnya.

Topik Menarik