Nisan Tertua Bukti Masuk Islam di Jawa, Gambarkan Interaksi Pedagang dan Pribumi

Nisan Tertua Bukti Masuk Islam di Jawa, Gambarkan Interaksi Pedagang dan Pribumi

Nasional | okezone | Minggu, 30 Maret 2025 - 02:39
share

MALANG - Makam Fatimah binti Maimun di Gresik menggambarkan bagaimana awal muka penyebaran Islam di Jawa bagian timur. Nisan itu bertuliskan huruf Arab Kufi yang berisikan identitas makam dan cara penyebaran agama Islam yang diidentifikasi tertua di Indonesia.

Duplikat nisan ini ada di Museum Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) yang dibuat mendekati 100 persen menyerupai aslinya. Tampak di nisan ini juga terdapat tulisan ayat Alquran Surat Al-Baqarah ayat 255 atau Ayat Kursi.

Sejarawan UM Najib Jauhari menyatakan, nisan itu memang menjadi bukti penemuan makam Islam tertua yang ada di Indonesia. Dimana dari identifikasi sejarahnya itu berasal dari tahun 1052 Masehi, berisikan beberapa hal mengenai Malik Ibrahim, meskipun tidak disebutkan detail.

"Ini nisan duplikat dari batu nisan Fatimah binti Maimun, bertuliskan bahasa Arab, ini contohnya tulisan Ayat Kursi. Tapi ini identitasnya disamarkan sebagai Malik Ibrahim, hanya tokoh saja tidak disebutkan, tersyirat saja," ucap Najib Jauhari, saat dikonfirmasi di Laboratorium Sejarah UM dikutip Minggu (30/3/2025).

Najib menjelaskan, nisan ini juga menggambarkan bagaimana proses perkembangan Islam yang dilakukan oleh tokoh di batu nisan. Dimana sosok Malik Ibrahim merupakan saudagar asal Persia, yang datang ke Nusantara melalui jalur perdagangan.

"Dalam sejarah Islam yang mengutamakan asal usulnya dari mana dulu, sehingga kalau sekarang menugaskan analisis Wali Songo ada dari persia, ada akulturasi budaya, perdagangan berarti seorang saudagar contohnya Malik Ibrahim," terangnya.

 

Jika penyebaran Hindu Buddha di Indonesia dengan teori Waisya. Maka dari sanalah muncul beberapa teori penyebaran agama Islam yang ada di Indonesia, melalui perdagangan jalur rempah-rempah, bahkan konon berdasarkan fakta sejarah di makam kuno Fir'aun ditemukan kapur barus dan minyak cengkeh yang berasal dari Nusantara.

"Di Islam juga dari saudagar, datang ke sini, kalau di Islam semua orang punya kewajiban menyebarkan, menyampaikan walau satu ayat, tidak peduli kelompok, petani, pedagang, semua punya kewajiban dakwah semampunya," ujarnya.

Fase penyebaran Islam di masa Malik Ibrahim sendiri kata Najib, masih periode awal masuknya Islam di Indonesia. Dimana Malik Ibrahim hanya beberapa orang yang berinteraksi dengan warga pribumi, melalui interaksi jual beli.

"Cuma hanya sebagian orang yang berinteraksi dengan dia (Malik Ibrahim) terutama berkaitan dengan jual belinya, sehingga dia tertarik, sehingga ikut meniru ajarannya, hingga akhirnya masuk Islam. Pengaruh terluas tentu kan paling efektif, dengan pendidikan dan budaya," paparnya.

"Jadi kalau dianalisis pesantren tertuanya Ampeldento, Surabaya, sehingga melahirkan itu penyebarannya merata, seperti Giri Gresik, tapi Giri itu pesantren politik," pungkasnya.

Topik Menarik