BPS Sebut Inflasi Ramadhan Dipengaruhi Peningkatan Permintaan
JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan bulan Ramadhan secara historis selalu dipengaruhi oleh peningkatan permintaan masyarakat, yang berpotensi memicu inflasi.
1. Pola Konsumsi Masyarakat
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menjelaskan bahwa pola konsumsi masyarakat yang lebih tinggi selama Ramadan dan menjelang Idulfitri menjadi faktor utama.
"Selama bulan Ramadan kalau kita lihat sejarahnya dipengaruhi oleh beberapa faktor, pertama karena adanya peningkatan demand atau permintaan karena menghadapi Ramadan dan juga lebaran ini konsumsi masyarakat relatif lebih tinggi dari sebelumnya," ujar Amalia dalam Rilis BPS di Jakarta, Senin (3/3/2025).
2. Belum Berikan Angka Pasti
Namun, Amalia belum dapat memberikan angka pasti mengenai prediksi inflasi Ramadan tahun ini. Data resmi inflasi akan dirilis BPS pada 1 April mendatang.
"Tapi demikian, untuk berapa nanti inflasi di bulan Ramadan atau hari raya Idulfitri tentu akan kami sampaikan di saat kita rilis di bulan April tanggal 1 seperti apa, itu nanti pengaruh Ramadan terhadap inflasi di bulan tersebut," ungkap Amalia.
3. BPS Akan Terus Pantau
Amalia menegaskan bahwa BPS akan terus memantau perkembangan harga dan konsumsi selama Ramadan untuk memberikan gambaran yang akurat mengenai inflasi.
"Yang jelas selama bulan Ramadan tahun-tahun sebelumnya, biasanya secara historis, untuk bulan Ramadan tahun ini kita lihat pada rilis di bulan April," kata Amalia.
Secara historis, menurut keterangan Amalia, pemerintah telah berupaya untuk menstabilkan harga selama bulan Ramadan dengan berbagai cara, termasuk operasi pasar untuk komoditas pokok, pengaturan distribusi, dan kebijakan moneter.
Meskipun demikian, tantangan dalam menjaga stabilitas harga tetap ada, terutama dengan kompleksitas rantai pasokan dan faktor-faktor musiman lainnya.