Pasangan Muda Ogah Berumah Tangga, Angka Pernikahan China Merosot ke Tingkat Terendah dalam Sejarah
JAKARTA – Angka pernikahan di China menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, dengan semakin banyak penduduk di Negeri Tirai Bambu tampaknya enggan untuk berumah tangga. Hal ini terlihat dari data Kementerian Urusan Sipil China yang menunjukkan angka pernikahan di negara itu mencapai titik terendah sepanjang sejarah pada 2024.
Mengutip dari The Hong Kong Post, Jumat (21/2/2025), penurunan angka pernikahan yang terus berlanjut ini memperburuk kekhawatiran atas anjloknya angka kelahiran di China, meski pemerintah terus berupaya mendorong pasangan muda untuk menikah dan memulai keluarga.
Tren ini menimbulkan tantangan demografi dan ekonomi yang signifikan, mendorong analisis yang lebih mendalam tentang akar penyebab, implikasi, dan respons kebijakan yang mungkin diterapkan.
Data resmi mengungkapkan bahwa jumlah pernikahan yang terdaftar di China telah terus menurun selama lebih dari satu dekade. Angka-angka terbaru menunjukkan bahwa pada 2024, angka pernikahan turun ke titik terendah sejak pencatatan dimulai, melanjutkan tren yang telah terlihat sejak awal 2010-an.
Jumlah pernikahan yang baru terdaftar turun menjadi sekira 6,5 juta pada 2023, dan data awal menunjukkan penurunan lebih lanjut pada 2024. Sebagai perbandingan, China mencatat lebih dari 13 juta pernikahan setiap tahunnya pada awal tahun 2000-an.
Lintasan penurunan ini mengkhawatirkan bagi para pembuat kebijakan, karena pernikahan masih terkait erat dengan angka kelahiran di China. Negara tersebut telah mencatat penurunan populasi untuk tahun kedua berturut-turut pada 2023, dengan jumlah kematian melebihi jumlah kelahiran.
Dengan lebih sedikit pernikahan, kemungkinan penurunan angka kelahiran yang dipercepat meningkat, yang selanjutnya memperburuk masalah demografi.
Faktor Penyebab
Perubahan sikap di dalam masyarakat China dinilai menjadi salah satu faktor penyebab penurunan angka pernikahan tersebut. Generasi muda di China semakin menunda atau sama sekali tidak menikah karena memprioritaskan kemajuan karier, pemenuhan pribadi, dan kemandirian finansial daripada harapan keluarga tradisional.
Penekanan pada pendidikan dan kemajuan karier, khususnya bagi perempuan, telah menyebabkan penundaan pernikahan dan kelahiran.
Selain itu, sikap terhadap hubungan dan pernikahan sedang bergeser dengan banyak anak muda di China memandang pernikahan kurang penting untuk kehidupan yang memuaskan, dan hidup bersama tanpa pernikahan formal menjadi lebih dapat diterima secara sosial.
Selain itu ada juga faktor tekanan ekonomi dengan semakin meningkatnya biaya hidup, perumahan, dan pengasuhan anak. Hal-hal ini secara signifikan menghalangi anak muda China untuk menikah.
Di kota-kota besar seperti Beijing, Shanghai, dan Shenzhen, harga perumahan telah melonjak, sehingga semakin sulit bagi pasangan muda untuk membeli rumah—faktor penting dalam keputusan pernikahan.
Lebih jauh lagi, biaya terkait resepsi pernikahan, mahar (praktik tradisional seperti mas kawin), dan tanggung jawab keuangan jangka panjang untuk membesarkan anak-anak, semakin menambah keraguan tersebut.
Ketidakseimbangan gender dan tantangan hubungan: Kebijakan satu anak yang telah lama berlaku di China, yang berlaku dari 1979 hingga 2015, telah berkontribusi terhadap ketidakseimbangan gender yang signifikan.
Jumlah pria lebih banyak daripada wanita di China, yang menciptakan tantangan bagi banyak pria dalam mencari pasangan.
Ketidakseimbangan ini khususnya terlihat di daerah pedesaan, di mana peluang ekonomi terbatas, sehingga semakin sulit bagi pria untuk menarik pasangan.
Selain itu, meningkatnya kemandirian finansial dan pendidikan kaum perempuan telah meningkatkan harapan bagi calon pasangan.
Banyak perempuan lebih suka menikah dengan pria dengan status sosial ekonomi yang sama atau lebih tinggi, yang menyebabkan semakin tidak cocoknya prospek pernikahan.
Keseimbangan kehidupan kerja dan tekanan masyarakat: Budaya kerja yang sangat kompetitif di China menyisakan sedikit ruang untuk kehidupan pribadi, khususnya bagi para profesional perkotaan.
Jam kerja yang panjang, stres yang tinggi, dan ketidakamanan pekerjaan membuat pernikahan dan perencanaan keluarga menjadi sulit. Banyak yang memprioritaskan karier mereka daripada memulai keluarga, memandang pernikahan sebagai hambatan potensial bagi pertumbuhan profesional.
Selain itu, tekanan masyarakat dan harapan keluarga juga dapat membuat putus asa.
Tradisi anggota keluarga yang lebih tua mendesak generasi muda untuk menikah telah menyebabkan penolakan di kalangan pemuda yang lebih suka membuat pilihan hidup mereka sendiri.
Upaya Pemerintah
Menyadari krisis demografi, pemerintah China telah menerapkan berbagai langkah untuk mendorong pernikahan dan kelahiran anak. Ini termasuk insentif keuangan, kebijakan perumahan yang longgar, dan tunjangan tempat kerja bagi pasangan yang sudah menikah dan orang tua.
Namun, meski ada berbagai upaya oleh pihak berwenang untuk mendorong pasangan muda untuk menikah dan memiliki anak, angka pernikahan di China terus menurun.
Para ahli telah menunjukkan bahwa penurunan angka penrikahan dan keahiran di China ini berpotensi menyebabkan penurunan demografi dengan populasi yang menua dan berkurangnya tenaga kerja, yang akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan tenaga kerja.
Dengan lebih sedikit orang muda yang memasuki dunia kerja, negara tersebut berisiko mengalami perlambatan produktivitas dan inovasi. Tenaga kerja yang menyusut juga meningkatkan beban pada sistem jaminan sosial dan pensiun.
Selain itu, isu ini juga berpotensi menyebabkan perlambatan ekonomi, dengan tingkat kelahiran yang lebih rendah menyebabkan berkurangnya permintaan konsumen dari waktu ke waktu. Lebih sedikit anak berarti pengeluaran yang lebih rendah untuk pendidikan, produk perawatan anak, dan layanan terkait keluarga.
Dalam jangka panjang, hal ini dapat menyebabkan stagnasi ekonomi.
Ada juga pergeseran isu sosial dan budaya yang perlu menjadi perhatian. Penurunan angka pernikahan dan kelahiran dikhawatirkan dapat menyebabkan perubahan signifikan dalam struktur keluarga dan dinamika sosial.
Sistem pendukung berbasis keluarga tradisional untuk perawatan lansia dapat melemah, meningkatkan ketergantungan pada sistem kesejahteraan pemerintah.
Masalah sosial lainnya adalah potensi meningkatnya masalah sosial terkait gender, dengan jumlah pria yang jauh lebih banyak dari pada perempuan. Ketimpangan ini dapat menyebabkan isu seperti kesepian, masalah kesehatan mental, dan ketidakstabilan sosial dapat meningkat.
Beberapa ahli memperingatkan bahwa meningkatnya jumlah pria yang tidak menikah di daerah pedesaan di China dapat menyebabkan tingkat perdagangan manusia dan praktik pembelian pengantin yang lebih tinggi.
Namun, untuk menghadapi tren ini, China mungkin perlu memperkenalkan reformasi yang lebih substansial, termasuk dukungan ekonomi komprehensif, fleksibilitas tempat kerja, langkah-langkah kesetaraan gender, dan jaminan sosial yang ditingkatkan.
Angka pernikahan terendah di China pada 2024 merupakan gejala tantangan sosial ekonomi yang lebih dalam, yang memerlukan respons kebijakan komprehensif.
Meski pemerintah China telah mengambil langkah-langkah untuk mendorong pernikahan dan kelahiran anak, reformasi struktural yang lebih luas diperlukan untuk mengatasi tekanan ekonomi, keseimbangan kehidupan kerja, dan kesenjangan gender.
Tanpa intervensi yang efektif, China menghadapi risiko penurunan populasi jangka panjang, perlambatan ekonomi, dan pergeseran nilai-nilai dalam masyarakat secara mendalam.