Peran Penting Tuban Pelabuhan Utama Kerajaan Majapahit Pengatur Ekspor Impor Perdagangan
JAKARTA - Kerajaan Majapahit menjadi kerajaan disegani di Nusantara dan mancanegara. Lokasinya yang menguasai beberapa pelabuhan strategis membuat banyak pedagang - pedagang dari mancanegara berdatangan menjajakan dagangannya di pelabuhan yang dikuasai Majapahit.
Pelabuhan utamanya tentu berada di Tuban, pada abad XVI. Dari Tuban inilah diekspor hasil bumi dan komoditi lain yang berasal dari Jawa Timur sendiri atau daerah lainnya. Komoditi tersebut antara lain merica, garam, rempah-rempah, mutiara, kulit penyu, gula tebu, pisang, kayu cendana, emas, perak, kelapa, kapuk, tekstil katun, sutera, belerang, dan yang tak kalah pentingnya adalah budak belian.
Di samping barang-barang tersebut masih ada satu lagi yang cukup penting yaitu beras. Beras rupanya diekspor ke Indonesia bagian timur, untuk ditukar dengan rempah-rempah, yang kemudian diekspor lagi ke Cina, dikutip dari buku "700 Tahun Majapahit Suatu Bunga Rampai".
Ada kalanya beras dibawa ke Sumbawa, di sana ditukarkan dengan tekstil kasar, dan tekstil inilah yang ditukar lagi dengan rempah-rempah. Pada waktu Malaka berdiri, ekspor beras dilakukan dari Gresik dan tidak lagi langsung diangkut ke negara-negara lain.
Pada abad XVI Masehi peranan pelabuhan beras dipegang oleh Jepara. Hal ini sejalan dengan majunya industri perkapalan di Lasem yang didukung adanya hutan jati di daerah tersebut. Konon pada zaman Song selatan pengimpor merica terbanyak adalah Tuban, meskipun kualitasnya masih kalah dari Sunda.
Sedangkan komoditas yang diimpor dari Cina yakni kain sutera, barang-barang besi, dan uang kepeng yang keduanya dibawa lagi ke Sulawesi. Impor yang paling penting dari Cina adalah keramik dari dinasti Song sampai Ming.
Pada berita dinasti Ming disebutkan bahwa orang-orang Majapahit gemar akan piring berbunga hijau. Mungkin ini mengarah kepada seladon atau piring biru putih. Selain dari Cina keramik juga diimport dari Khmer dan Thailand (Sukothai dan Sawankalok).