Picu Perang Dagang Global, Investor Waspadai Pengumuman Tarif Baru AS
IDXChannel - Investor waspada menjelang rencana Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengumumkan tarif baru pada barang-barang impor yang masuk ke AS.
Pengumuman yang kabarnya berlangsung Rabu (2/4/2025) ini dikhawatirkan dapat memicu perang dagang global secara penuh.
Trump telah menghabiskan berjam-jam berdiskusi dengan para penasihat terdekatnya pada Selasa (1/4/2025). Para pelaku pasar sudah bersiap menghadapi dampaknya dan berhati-hati dalam mengambil keputusan terkait pernyataan Trump, dengan indikator volatilitas Wall Street yang meningkat dalam beberapa hari terakhir.
"Komunitas investor secara universal merasa cemas," kata Kepala Obligasi Global, Robert Tipp, di PGIM Fixed Income dilansir dari Financial Times, Rabu (2/4/2025).
Tipp menyebut orang-orang mulai mengurangi risiko dan menjauh dari kredit, dolar, dan saham dalam beberapa minggu terakhir.
Setelah berjam-jam berdiskusi dengan para penasihatnya, tidak ada tanda-tanda bahwa Trump akan mundur dari rencananya untuk menaikkan tarif, meskipun ada peringatan mengenai dampaknya terhadap ekonomi AS.
Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan tarif tersebut berlaku segera dan menepis adanya kekhawatiran di pasar yang memicu penurunan tajam indeks S&P 500 dalam beberapa minggu terakhir.
"Bursa saham AS adalah potret sesaat. Presiden ingin memastikan bahwa rakyat Amerika mendapat manfaat, terutama masyarakat biasa, itulah fokus dari tarif ini. Wall Street akan baik-baik saja," kata dia.
Ancaman tarif Trump dan perubahan kebijakannya yang tiba-tiba telah mengguncang pasar tahun ini, mendorong saham AS turun serta menekan dolar dan obligasi korporasi berisiko.
Tim JPMorgan mengirimkan catatan kepada klien dengan judul "Kami tidak tahu apa yang akan terjadi besok", dan mencatat bahwa pasar tetap waspada menjelang pengumuman presiden.
Trump secara luas diperkirakan mengumumkan tarif timbal balik terhadap mitra dagang AS, tetapi investor masih belum yakin mengenai cakupan dan skala kebijakan tersebut. Sejak kembali menjabat, dia telah mengumumkan tarif tinggi terhadap Kanada dan Meksiko sebelum akhirnya melonggarkan rencana tersebut.
(NIA DEVIYANA)