Gletser Mencair Ungkap Jasad Pendaki Bertato dari 5 Ribu Tahun Lalu

Gletser Mencair Ungkap Jasad Pendaki Bertato dari 5 Ribu Tahun Lalu

Teknologi | okezone | Rabu, 2 April 2025 - 09:54
share

JAKARTA - Cairnya gletser dan bongkahan es mengungkap keterampilan manusia, petualangan hingga konflik mematikan. Ini juga mengungkap sosok lelaki dari masa 5 ribu tahun yang lalu. 

Sekitar 5.000 tahun lampau, seorang lelaki bertato berusia 40-an tahun, dengan mata cokelat dan rambut hitam yang menipis, mendaki gunung setinggi 3.000 meter di Pegunungan Alpen Ötztal. Lokasi tepatnya berada di perbatasan antara wilayah yang sekarang dikenal sebagai Italia dan Austria, menurut laporan BBC, dikutip pada Rabu (2/4/2025).

Laki-laki itu mengenakan mantel bulu kambing bergaris, topi bulu beruang, dan sepatu kokoh dengan sol kulit beruang.

Meskipun secara genetis dia cenderung mengalami obesitas, gaya hidupnya yang aktif membuatnya tetap bugar dan berotot.

Dia memiliki sejumlah masalah kesehatan, yakni masalah perut dan lutut, tetapi itu tidak menghentikannya mendaki gunung.

Perlengkapannya luar biasa banyak walau beberapa di antaranya tidak lengkap, seolah dikemas dengan tergesa-gesa. Ada busur dan anak panah yang belum selesai, kapak tembaga yang berharga, jamur obat, dan bahkan dua kompor portabel yang terbuat dari kulit kayu birch.

Dia hendak menyeberangi punggung bukit yang tinggi untuk menyelamatkan diri ketika sebuah anak panah menghantam bahunya, memutus urat nadi dan membunuhnya.

Salju dan es menutupi tubuh dan barang-barangnya. Dia terbaring di sana, tidak terdeteksi, selama ribuan tahun.

Di tempat lain di Pegunungan Alpen, jasad dan benda-benda lainnya juga membeku di dalam es selama ratusan bahkan ribuan tahun. Namun beberapa dekade yang lalu, mereka mulai muncul.

Gletser mencair (via BBC)

Gletser yang semakin cepat mencair mengungkapkan berbagai temuan yang memunculkan bidang ilmiah baru: arkeologi glasial.

Ini adalah ilmu yang mempelajari temuan-temuan kuno dari gletser yang mencair.

Temuan ini memberi tahu kita soal gambaran rinci tentang perjalanan, inovasi, hingga ancaman di pegunungan tinggi di masa lampau.

"Selalu ada kasus-kasus individu berupa jasad atau benda muncul dari dalam es. Gletser telah menelan orang dan benda, tapi pada satu titik, gletser memuntahkannya kembali karena massa es bergerak," kata Direktur layanan arkeologi Kanton Grisons di Swiss, Thomas Reitmaier.

Bahkan, ada kosa kata bahasa Jerman Alpen yang menggambarkan munculnya benda-benda dari gletser: "ausgeapert" yang berarti sesuatu yang tersingkap karena mencairnya salju atau es.

Namun, karena pemanasan global dan gelombang panas telah mempercepat hilangnya gletser, ada begitu banyak temuan arkeologi yang belum pernah terjadi sebelumnya, kata Reitmaier. Terkadang gletser juga menampilkan sejarah ribuan tahun sekaligus.

Penemuan-penemuan ini menunjukkan kecerdikan manusia saat melintasi Pegunungan Alpen, berdagang, melarikan diri, berburu, menggembala atau menaklukkan berbagai hal.

Ada banyak inovasi teknis yang diketahui lewat gletser. Contohnya, sepatu salju tertua di dunia yang berasal dari hampir 6.000 tahun lalu serta jejak-jejak praktik spiritual kuno.

Bangsa Romawi mengorbankan koin-koin mereka untuk dewa-dewa gunung sebelum menyeberangi Pegunungan Alpen karena takut tertimpa longsoran batu dan salju. Aksi itu dilakukan ketika mereka berupaya memperluas wilayah kekaisaran mereka ke seluruh Eropa.

Ada pula penemuan mengharukan dan misterius yang usianya tergolong tidak terlalu tua.

Pada abad ke-17, seorang perempuan berusia 20-an mengenakan mantel laki-laki dan sepatu yang tidak serasi, mencoba menyeberangi gletser di Swiss.

Dia membawa sebuah mangkuk kayu, sendok kayu, dan sebuah rosario. Dia meninggal, mungkin karena jatuh, dan jasadnya tertutup oleh salju dan es sampai dia muncul pada akhir 1980-an.

 

Menguak Rahasia Mumi Es

Yang mungkin mengejutkan, penemuan ini menunjukkan rute perjalanan Alpen yang paling populer tidak banyak berubah selama ribuan tahun.

Reitmaier mengatakan suhu terpanas pada 2003 telah menyingkap sejarah besar yang tersembunyi di Schnidejoch di Swiss.

"Ada garis objek yang terus menerus membentang dari tahun 4.800 SM, dari Abad Pertengahan hingga saat ini," katanya.

"Setiap kali jalur itu terbuka, manusia melewatinya dan mereka kehilangan sesuatu, atau mereka meninggal dan meninggalkan benda-benda."

"Hanya karena kemunculan jalan raya, jalur kereta api dan terowongan, lintasan-lintasan ini kehilangan peran krusialnya, yaitu membawa manusia dari satu tempat ke tempat lain," ujar Reitmaier.

Penemuan yang paling terkenal dan paling banyak dipelajari adalah Tyrolean Iceman berusia 5.000 tahun, yang diceritakan di awal artikel ini.

Dia dijuluki Ötzi, yang diambil dari nama Pegunungan Alpen Ötztal tempat ia ditemukan.

Pegunungan Alpen Oztal (Via BBC)

Ötzi ditemukan pada 1991, pada masa-masa awal gletser mencair. Padahal, selama ribuan tahun jasadnya diawetkan oleh es dan tidak pernah ditemukan.

"Sebelum penemuan Ötzi, para arkeolog umumnya berasumsi bahwa manusia tidak mengunjungi atau menyeberangi pegunungan tinggi di masa lampau karena medannya terlalu sulit," kata Andreas Putzer.

Putzer adalah seorang arkeolog dan kurator di Museum Arkeologi South Tyrol di Bolzano, Italia, tempat mumi es Ötzi disimpan.

"Namun Ötzi mengajarkan kita bahwa manusia memang pergi ke sana, dan itu benar-benar memulai penelitian arkeologi di pegunungan tinggi di Pegunungan Alpen ini," tambahnya.

Penelitian tentang Ötzi beserta barang-barang miliknya yang berlangsung selama puluhan tahun telah menghidupkan kembali sebuah dunia dari masa lampau.

Para ilmuwan telah menemukan tanaman dan hewan apa yang ia kumpulkan, budidayakan, dan buru.

Mereka telah melacak migrasi panjang leluhurnya dari Anatolia (di Turki modern) ke Eropa, dan memetakan jaringan perdagangan yang luas dari komunitas pertaniannya.

Dia hidup di masa ketika orang-orang di wilayah tersebut sudah tinggal di desa-desa di lembah, dan bertani di sana, kata Putzer. Tetapi beberapa orang juga masih menjelajah untuk berburu.

 

Peralatan Kuno Berteknologi Tinggi

Sambil berdiri di depan etalase dengan topi bulu beruang milik Ötzi Evelyn Egger, seorang arkeolog di Museum Arkeologi South Tyrol, menjelaskan bahwa lembaga tersebut telah memperluas ruangnya untuk menampung penemuan-penemuan baru.

"Peneliti terus mendapat penemuan-penemuan baru," kata Egger.

Misalnya, tentang kecenderungan genetik Ötzi terhadap obesitas, diabetes, dan kebotakan, yang sebagian diimbangi oleh gaya hidupnya yang sehat.

Analisis serbuk sari dan serpihan lumut dalam sistem pencernaan Ötzi, serta pada pakaian dan peralatannya, bahkan memungkinkan para peneliti untuk merekonstruksi perjalanan terakhirnya. Itu karena tanaman-tanaman tersebut tumbuh pada ketinggian yang berbeda dan di sisi pegunungan yang berbeda.

Selama sekitar 33 jam terakhir hidupnya, dia berjalan ke utara dari atas dekat barisan pepohonan, pada ketinggian 2.300 meter, lalu kembali ke hutan, melalui ngarai, dan kembali naik ke atas hingga ketinggian 3.000 meter.

Penelitian lain menunjukkan bahwa perjalanan Ötzi yang tergesa-gesa mungkin terkait dengan penyebab kematiannya.

Beberapa hari sebelum meninggal, dia menderita luka tusuk di tangan kanannya, dan sesaat sebelum meninggal, dia mendapat pukulan di punggungnya.

Perlengkapan mewahnya menunjukkan bahwa dia mungkin seorang pemimpin, yang mungkin terlibat dalam perebutan kekuasaan.

Kapak tembaga milik Ötzi dibuat dengan tembaga yang diimpor dari Tuscany yang kini menjadi wilayah Italia. Kapak serupa digambarkan pada ukiran batu dan ditemukan di makam-makam dari masa itu. Kapak ini merupakan simpol status tinggi.

Topi bulu beruang, pakaian, dan serangkaian peralatannya dibuat dengan keterampilan tinggi.

Saat berjalan di samping pakaian dan barang-barang Ötzi yang diletakkan di etalase museum, Egger berhenti dan menatap mantelnya, yang terbuat dari potongan-potongan bulu kambing dan domba hitam dan cokelat.

"Hangat dan panjang, dan juga dibuat dengan sangat hati-hati. Tidak hanya fungsional, tetapi juga indah," katanya

Putzer menunjukkan desain sepatu Ötzi yang canggih.

"Ötzi mengenakan sepatu yang benar-benar cocok untuk pegunungan tinggi, dengan sol yang sangat kuat dan mencengkeram yang terbuat dari kulit beruang, dan diisi dengan jerami untuk menghangatkan tubuh."

Bagian atasnya terbuat dari kulit rusa yang lentur. Menurut Putzer, alas kaki yang kokoh ini sangat berbeda dari alas kaki yang lebih ringan yang ditemukan di masyarakat dataran rendah pada masa itu di tempat-tempat seperti permukiman tepi danau Alpen, yang dikenal sebagai rumah panggung.

"Sepatu dari danau-danau itu pada dasarnya adalah sandal. Bahkan saat ini, hanya wisatawan yang mengenakan sandal seperti itu di pegunungan ini," katanya.

Desain perlengkapan Alpen lainnya seperti sepatu salju dan kereta luncur juga tetap sama selama ratusan bahkan ribuan tahun, karena memang berfungsi.

"Bahkan saat itu, mereka tahu apa yang mereka butuhkan untuk melintasi punggung pegunungan Alpen ini, dan sudah dipersiapkan dengan baik."

Di museum di Bolzano, sepatu salju tertua di dunia, yang juga ditemukan di sepanjang perbatasan Italia-Austria, dipajang bersama benda-benda sehari-hari lainnya yang ditemukan di es. Salah satunya kereta luncur berusia berabad-abad. Semuanya memiliki desain yang mirip dengan sepatu salju masa kini.

Reitmaier mengatakan penemuan lain dari tempat lain di Pegunungan Alpen, seperti peralatan dan senjata dari Schnidejoch, menunjukkan pemahaman yang sama canggihnya tentang apa yang dibutuhkan untuk menaklukkan pegunungan.

"Mereka menggunakan kayu yang tepat untuk setiap tujuan, dan selalu menggunakan bahan terbaik. Sekarang kita menyebutnya berteknologi tinggi," kata dia.

Topik Menarik