Ketika Imam Masjid Agung Demak Gugur Usai Perang Lawan Majapahit
JAKARTA - Pertempuran sengit terjadi antara Kerajaan Demak dan Majapahit. Bahkan konon pertempuran ini membuat Kerajaan Demak sempat kewalahan dan nyaris kalah menghadapi sisa-sisa pasukan Majapahit yang memang terkenal kekuatannya.
Konon salah satu imam Masjid Agung Demak yakni Sunan Ngudung gugur ketika harus berhadapan dengan pasukan Majapahit. Sunan Ngudung atau yang juga disebut Sunan Undung berangkat ke medan pertempuran dengan menggunakan baju Antakusuma.
Baju itu dipinjamnya dari Sunan Kalijaga sebelum peperangan melawan Majapahit. Sosoknya dikisahkan "Sajarah Wali Syekh Syarif Hidayatullah Sunan Gunung Jati : Naskah Mertasinga", sebagai panglima perang ketika melawan Majapahit. Tapi sayang Sunan Ngudung harus menelan kekalahan ketika berhadapan dengan Adipati Teterung.
Ketika Sunan Ngudung gugur saat mengenakan baju Antakusuma itu ada sebuah kejadian menarik dan di luar akal manusia. Konon baju Antakusuma yang dipakai Sunan Ngudung itu tiba-tiba datang berada di masjid.
Saat itu memang pasukan Demak terpaksa mundur karena nyaris kalah, apalagi dengan gugurnya Sunan Ngudung. Ketika Walisanga sedang berada di masjid itulah, tiba-tiba dikejutkan oleh datangnya baju Antakusuma.
Baju itu kembali dengan penuh berlumuran darah. Sunan Bonang berkata, "Baju ini datang sendiri, mestinya yang memakainya telah gugur di medan peperangan". Betul saja tak lama kemudian jenazah Sunan Undung tiba, jenazahnya kemudian disempurnakan dan dimakamkan di halaman Mesjid Demak.
Kemudian para Wali merundingkan siapa yang akan menjadi penggantinya sebagai panglima perang. Akhirnya dalam perundingan itu diputuskan bahwa Sunan Kuduslah yang akan menggantikan ayahandanya. Dalam pertempuran ini Sunan Gunung Jati beserta Sunan Giri mengajukan diri akan ikut berperang. Semua wali menyetujui permintaan kedua wali tersebut.
Pasukan Demak pun kian lengkap dengan bergabungnya Sunan Gunung Jati dan Sunan Giri. Mereka yang dipukul mundur kembali menggembur Majapahit. Karomah waliyullah lagi-lagi diperlihatkan di sini. Konon selain peti pusaka yang dibawa Sunan Kudus, dua senjata pamungkas dari karomah Sunan Gunung Jati dan Sunan Giri membuat pasukan Majapahit akhirnya kocar-kacir dan kalah.
Setelah pasukan Majapahit dapat dikalahkan, ketiga wali itu pergi ke Keraton Majangrara sepi. Tidak ada seorang pun yang berani menampakan dirinya, para penjaganya telah lari, menyembunyikan diri ke gunung-gunung.
Dikisahkan ketiga orang wali itu beserta bala tentaranya memasuki Keraton Majapahit. Semuanya sudah sepi, mereka memasuki prabayaksa atau ruang utama di keraton. Sesuai dengan kehendak para waliyullah ini isi keraton konon dipindahkan ke serambi Masjid Demak. Adapun isi dari istana yang berupa alat-alat kerajaan diserahkan oleh Dewi Kendar, dan semuanya dibawa ke Demak.