Awal Ramadan 2025 Berpotensi Berbeda, Apa Kata Astronom Bosscha?
JAKARTA – Pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama (Kemenag) akan mengumumkan awal Ramadan 2025 setelah menggelar sidang isbat pada 29 Syakban 1446 H. Namun awal Ramadhan 2025 berpotensi berbeda.
Astronom dari Observatorium Bosscha Bandung, Muhammad Yusuf mengatakan, ada potensi perbedaan dalam penetapan awal Ramadan tahun ini.
"Potensi perbedaan akan ada untuk 1 Ramadhan nanti, karena untuk pengamal rukyat itu akan membutuhkan verifikasi, bisa melihat hilal atau tidak," ujar Yusuf saat ditemui di acara "Catch the Moon Ramadan Kareem" yang digelar Ditjen Bimas Islam di Kantor Kemenag Thamrin, Jakarta Pusat, dikutip Selasa (25/2/2025).
Dia menjelaskan, sebagian besar pengamal hisab dan imkanur rukyat di Indonesia sebenarnya sudah hampir bisa menetapkan bahwa 1 Ramadhan 1446 H akan jatuh pada 1 Maret 2025. Namun, menurut dia, posisi hilal pada 28 Februari 2025 nanti akan sulit diamati.
"Bahwa pada tanggal 28 Februari nanti, itu posisi hilalnya agak sulit untuk diamati. Jadi, sangat mungkin akan ada kegagalan untuk melihat hilal," ujar Yusuf.
Menurutnya, jika hilal tidak terlihat, maka pengamal rukyat akan menggenapkan bulan Sya'ban menjadi 30 hari. Sehingga, bulan Ramadhan akan jatuh pada 2 Maret 2024.
"Sebagian besar ulama itu memerlukan verifikasi bulannya bisa dilihat. Kalau bulan itu tidak bisa kita lihat, maka itu harus digenapkan menjadi 30 hari," ujarnya.
Lebih lanjut dia mengatakan, ada beberapa hal yang membuat awal Ramadhan tahun ini berpotensi berbeda. Pertama, karena posisi hilalnya memang agak sulit.
"Artinya bulannya akan sangat tipis. Pada kondisi tersebut, meskipun cerah sekalipun, itu masih agak sulit untuk diamati," jelas dia.
Kedua, lanjut dia, cuaca di Indonesia saat ini masih bulan hujan, sehingga hilalnya kemungkinan besar akan tertutup awan.
Berdasarkan kriteria baru MABIMS, imkanur rukyat dianggap memenuhi syarat apabila posisi hilal mencapai ketinggian 3 derajat dengan sudut elongasi 6,4 derajat. Jika menggunakan kriteria tersebut, kata Yusuf, maka sebenarnya wilayah Aceh sudah memenuhi kriteria tersebut.
"Jadi, untuk menetapkan tanggal 1 Ramadhan melalui kriteria tadi, itu sebenarnya sudah bisa," tandasnya.
Kemenag Gelar Pelatihan Hisab Rukyat "Catch The Moon"
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kementerian Agama, Abu Rokhmad mengatakan, sidang isbat merupakan salah satu bentuk layanan keagamaan yang harus dijalankan oleh pemerintah. Hal itu disampaikannya saat membuka Catch the Moon di Auditorium HM Rasjidi, Kementerian Agama, Jakarta.
“Sidang isbat, hisab, dan rukyat adalah bentuk layanan keagamaan yang diberikan pemerintah kepada umat Islam. Ini bukan sekadar tradisi, tetapi bagian dari peran negara dalam memastikan kepastian hukum dan ketertiban dalam praktik ibadah,” ujarnya.
Dia mengatakan, layanan keagamaan ini setara dengan layanan haji, umrah, pendidikan agama, hingga sertifikasi halal. Oleh karena itu, pelaksanaan sidang isbat adalah bagian dari tanggung jawab negara terhadap umat.
Sidang isbat kata dia bukan sekadar acara seremonial, tetapi forum resmi yang menentukan awal bulan Hijriah berdasarkan metode ilmiah dan syariat. Manfaatnya juga sangat besar karena memberi kepastian bagi umat dalam menjalankan ibadah seperti puasa dan Idulfitri.
Dia juga mengungkapkan perbedaan metode dalam penentuan awal bulan Hijriah, yang kerap menjadi dinamika di masyarakat. Menurutnya, metode hisab dan rukyat sama-sama memiliki dasar ilmiah dan keagamaan yang kuat, serta merupakan bagian dari kekayaan intelektual Islam yang harus dihormati.
“Hisab adalah metode perhitungan astronomi untuk menentukan posisi bulan secara matematis, tanpa perlu melakukan observasi langsung. Sementara itu, rukyat adalah metode pengamatan langsung hilal (bulan sabit pertama) di ufuk setelah matahari terbenam,"ujarnya.
"Kedua metode ini memiliki landasan ilmiah dan keagamaan yang kuat serta telah digunakan dalam sejarah Islam. Perbedaan ini adalah fakta yang harus kita akui. Yang terpenting, kita tetap menjaga ukhuwah Islamiyah dan mengedepankan toleransi dalam menyikapi perbedaan,” tegasnya.