Daya Beli Melemah Saat Lebaran 2025, Mal Ramai tapi Sedikit yang Berbelanja

Daya Beli Melemah Saat Lebaran 2025, Mal Ramai tapi Sedikit yang Berbelanja

Terkini | idxchannel | Rabu, 2 April 2025 - 11:14
share

IDXChannel - Daya beli masyarakat di momen Lebaran 2025 dinilai mengalami pelemahan. Chairman & Founder Affiliation Global Retail Association (AGRA), Roy Nicholas Mandey, mengatakan meskipun mal tampak ramai, hanya sedikit saja pengunjung yang berbelanja.

"Mal tetap ramai, tetapi tidak menggambarkan masyarakat berbelanja. Mereka lebih banyak datang untuk bersilaturahmi, berbuka puasa, kemudian saat lebaran ya berkumpul bersama keluarga," ujar Roy saat dihubungi IDXChannel, Rabu (2/4/2025).

Menurut Roy, banyak pengunjung sekadar melihat-lihat tanpa melakukan pembelian yang signifikan. Hal tersebut tampak dari ukuran rata-rata jumlah barang atau layanan yang dibeli dalam satu transaksi (basket size) mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.

Berdasarkan survei Populix, kata Roy, sekitar 55-56 persen penerima Tunjangan Hari Raya (THR) lebih memilih untuk menabung, sehingga jumlah masyarakat yang berbelanja maupun yang melakukan mudik juga ikut berkurang.

"Bisa dilihat dari data Kementerian Perhubungan di mana jumlah pemudik turun dari 192 juta menjadi 146 juta," kata dia.

Selain itu, kata Roy, peredaran uang di masyarakat juga mengalami penurunan signifikan, turun sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, peredaran uang mencapai Rp137 triliun, sementara di 2025 hanya sekitar Rp114 triliun.

"Indeks penjualan ritel (IPR) kita juga turun dari 122 menjadi 112. Jadi semua indikator menandakan memang masyarakat menahan, menahan belanja. Jadi ada dua model. Ada yang menahan belanja meski mereka punya uang, ada juga yang menahan belanja karena mereka ter-PHK," kata Roy.

Roy juga menyoroti dampak dari penurunan daya beli terhadap pertumbuhan ekonomi. Jika tahun lalu pertumbuhan ekonomi kuartal kedua bisa sebesar 5,17, tahun ini diperkirakan hanya berada di kisaran 4,8-4,9 persen. 

Pertumbuhan ritel pun tidak lagi mencapai double digit seperti tahun sebelumnya yang berada di angka 18-20 persen, melainkan hanya sekitar 8-9 persen.

"Pemerintah seharusnya mencermati indikator-indikator ini untuk mengambil langkah-langkah strategis dalam mendorong konsumsi masyarakat," kata Roy.
 
(NIA DEVIYANA)

Topik Menarik