Wall Street Dibuka Melemah Jelang Penerapan Kebijakan Tarif Dagang AS
IDXChannel- Wall Street dibuka melemah pada perdagangan Senin (31/3/2025) waktu setempat. Hal ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap tarif dagang baru Amerika Serikat yang akan berlaku 2 April.
Pasar khawatir bahwa kebijakan ini akan memperlambat pertumbuhan ekonomi dan memicu inflasi lebih tinggi.
Mengutip Investing, Dow Jones Industrial Average turun 290,65 poin atau 0,68 persen ke 41.293,25, S&P 500 turun 56,93 poin atau 1,01 persen ke 5.524,77 dan Nasdaq Composite anjlok 277,34 poin atau 1,58 persen ke 17.039,68.
Penurunan tersebut menambah tekanan bagi pasar, yang sudah dalam tren negatif sepanjang bulan ini akibat meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan kebijakan perdagangan yang lebih proteksionis.
Kebijakan Tarif AS dijadwalkan mulai diterapkan 2 April. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebutnya sebagai 'Liberation Day' atau 'Hari Pembebasan'.
Berdasarkan laporan Wall Street Journal, Trump berencana memberlakukan tarif lebih tinggi terhadap lebih banyak negara, dengan tujuan mengatasi defisit perdagangan AS yang dinilainya merugikan.
Pekan lalu, Trump telah mengumumkan tarif 25 persen untuk semua mobil non-Amerika yang akan berlaku mulai 2 April. Selain itu, ada kemungkinan tarif tambahan akan dikenakan pada sektor komoditas, semikonduktor, dan farmasi.
Pasar keuangan khawatir bahwa kebijakan tarif ini akan berdampak negatif terhadap perekonomian AS. Kenaikan tarif akan membebani importir AS, meningkatkan harga barang, dan berpotensi memicu inflasi lebih tinggi.
Menurut analis Goldman Sachs, peluang resesi di AS dalam 12 bulan ke depan mencapai 35 persen, Mereka juga memperkirakan inflasi akan tetap di atas target 2 persen yang ditetapkan Federal Reserve sepanjang 2025.
Kondisi ini semakin diperparah dengan data inflasi terbaru yang lebih tinggi dari perkiraan. Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), yang merupakan indikator inflasi favorit The Fed, mencatat kenaikan signifikan pada Februari.
Akibatnya, The Fed kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, yang dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.
Selain tarif dagang, perhatian pasar minggu ini juga tertuju pada laporan ketenagakerjaan AS untuk Maret 2025. Diperkirakan ekonomi AS hanya menambah 139.000 lapangan kerja, turun dari 151.000 pada Februari. Tingkat pengangguran diperkirakan tetap di 4,1 persen.
Sebelum laporan tenaga kerja utama dirilis pada Jumat (4/4/2025), data lain seperti lapangan kerja sektor swasta dan angka lowongan pekerjaan juga akan dipublikasikan.
Saat ini, pasar masih menghadapi tekanan dari inflasi tinggi, kebijakan perdagangan yang agresif, serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Fed. Kombinasi faktor-faktor ini membuat investor semakin waspada terhadap prospek ekonomi AS dalam waktu dekat.
(Ibnu Hariyanto)