Akhir Kejayaan Singasari! Raja Kertanagara, Ekspedisi Pamalayu, dan Kudeta Maut Jayakatwang

Akhir Kejayaan Singasari! Raja Kertanagara, Ekspedisi Pamalayu, dan Kudeta Maut Jayakatwang

Nasional | sindonews | Senin, 24 Maret 2025 - 23:36
share

RAJA Kertanagara dikenal sebagai penguasa terakhir Kerajaan Singasari. Di bawah kepemimpinannya, Singasari mencapai puncak kejayaan hingga menguasai wilayah Semenanjung Melayu.

Demi memperkuat pengaruh politiknya, Kertanagara melancarkan sebuah ekspedisi besar bernama Ekspedisi Pamalayu, yang berhasil menundukkan sejumlah kerajaan di Semenanjung Malaya.

Keberhasilan ekspedisi ini menjadi bukti kepiawaian Kertanagara dalam memperluas kekuasaan. Pasukan Singasari dikerahkan secara maksimal ke wilayah luar negeri.

Namun, di balik kesuksesan itu, terdapat kegelisahan dalam hati sang raja. Gayatri, putri Kertanagara, beberapa kali mendengar curahan hati ayahnya yang merasa bahwa kekuasaannya berada di ambang kehancuran.

Menurut catatan Gayatri, muncul perbedaan kepercayaan yang cukup mencolok di Singasari. Dua agama besar, Buddha dan Hindu Syiwa, bersaing dalam menarik pengikut baru.

Dalam bukunya "Gayatri Rajapatni: Perempuan di Balik Kejayaan Majapahit", Earl Drake mengisahkan bagaimana Kertanagara merespons situasi ini dengan strategi yang dianggap cukup inovatif.

Namun, Gayatri tidak secara rinci menjelaskan langkah-langkah yang diambil sang ayah. Bisa jadi, jawaban atas permasalahan ini memiliki dinamika tersendiri, yang mungkin berbeda dengan tantangan yang dihadapi pemimpin di era modern.

Salah satu tantangan terbesar bagi Kertanagara adalah perselisihan berkepanjangan antara Singasari dan Kediri. Meskipun kedua wilayah itu sempat bersatu, konflik berdarah terkait garis keturunan yang berhak atas takhta terus berlanjut.

Jayakatwang, penguasa Kediri sebenarnya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan Kertanagara. Namun, sikap terlalu percaya diri membuat Kertanagara meremehkan kemungkinan Jayakatwang akan menyerang, mengingat hubungan keluarga dan balas jasa di masa lalu.

Di sisi lain, ancaman lain datang dari Mongol, yang telah menguasai sebagian besar wilayah Rusia dan Tiongkok.

Kertanagara menyadari bahaya ini dan mulai menyusun rencana untuk membangun aliansi dengan kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di sekitarnya guna menghadapi potensi invasi.

Sayangnya, sebelum rencana itu dapat diwujudkan sepenuhnya, Jayakatwang melancarkan serangan mendadak. Dengan sebagian besar pasukan Singasari dikerahkan ke luar negeri dalam Ekspedisi Pamalayu, ibu kota kerajaan menjadi rentan.

Serangan Jayakatwang berakhir dengan kehancuran Singasari. Istana berhasil dikuasai, sementara Kertanagara, permaisuri, dan para pejabat kerajaan tewas dalam serangan mendadak dari arah selatan.

Ironisnya, menurut beberapa sumber, Kertanagara dikabarkan sedang dalam keadaan mabuk minuman keras dan berpesta saat serangan itu terjadi - sebuah akhir tragis bagi penguasa besar Singasari.

Topik Menarik