Sebut Indonesia Negara Miskin, Mantan Pemain PSM Makassar asal Belanda Ini Menghilang dari Transfermarkt sejak 2022
SEBUT Indonesia negara miskin, mantan pemain PSM Makassar asal Belanda, Anco Jansen, menghilang dari transfermarkt sejak 2022. Anco Jansen mendapatkan harga pasaran pertama kali dari transfermarkt pada 2008 saat memperkuat klub Eredivisie, FC Groningen.
Saat itu, harga pasaran Anco Jansen mencapai 150 ribu euro atau sekira Rp2,7 miliar. Kemudian harga pasaran tertinggi Anco Jansen tersaji saat memperkuat FC Emmen pada 2019, yakni mencapai 700 ribu atau setara Rp12,5 miliar.
Dua tahun berselang, Anco Jansen yang biasa bermain sebagai winger kiri hengkang ke PSM Makassar. Pertama kali tiba di Tanah Air, pria yang kini berusia 36 tahun itu memiliki harga pasar 400 ribu euro atau setara Rp7,2 miliar.
Berselang tiga bulan, harga pasar Anco Jansen merosot menjadi 250 ribu euro atau setara Rp4,5 miliar. Selanjutnya pada awal 2022, transfermarkt tiba-tiba menghapus harga pasaran Anco Jansen dari laman resmi mereka.
Padahal, Anco Jansen masih berstatus personel PSM Makassar. Ia pun masih sempat sekira delapan bulan membela klub semiprofesional, DZOH Emmen, sebelum benar-benar pensiun pada 1 Februari 2023.
2. Sebut Indonesia Negara Miskin
Anco Jansen baru-baru ini tampil di salah satu podcast yang ada di Belanda. Ia menyebut Indonesia negara miskin, yang mana masyarakatnya kebanyakan main media sosial.
“Ya itu terutama karena media sosial. Saya main di sana saat pandemi. Indonesia negara sangat miskin, tapi semua punya smartphone dan instragram sangat populer di sana,” kata Anco Jansen dalam podcast bertajuk Voetbalpraat.
“Kalau gagal mencetak gol, saya mendapat saran agar jangan melihat media sosial selama dua hari ,” lanjut pemain yang mengemas lima gol dan satu assist dari 20 laga Liga 1 2021-2022 bersama PSM Makassar tersebut.
Anco Jansen juga menyebut Indonesia bukanlah negara sepakbola. Pernyataan ini disampaikan Anco Jansen setelah satu tahun berkarier di Tanah Air.
“Fasilitas, akademi, pelatih di sana terbatas. Itu cukup menjelaskan. Itu yang saya pahami. Para pemain naturalisasi mendapat jutaan pengikut dan menjadi menarik perhatian. Tapi, sepakbola di Indonesia sebenarnya tidak ada apa-apanya,” tutup pria berkepala plontos ini.