Profil Tiara, Peserta MasterChef Indonesia Season 12 yang Ingin Jadi Content Creator seperti Chef Devina
JAKARTA - Struktur organisasi di Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) harus diisi oleh orang-orang profesional. Hal ini menjadi keharusan karena Danantara akan mengelola aset negara bernilai lebih dari USD900 miliar atau setara Rp14.715 triliun.
"Danantara yang akan mengelola aset negara dalam jumlah besar, harus dikelola oleh profesional, dengan target-target yang terukur, dan visi-misi yang dikomunikasikan dengan baik kepada publik," ujar Chief Economist di Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian kepada Okezone, Jakarta, Jumat (21/2/2025).
Saat ini Danantara dipimpin oleh Muliaman D Hadad sebagai Kepala Danantara dan Kaharuddin Djenod Daeng Manyambeang menjabat sebagai Wakil Kepala Danantara. Mereka telah dilantik oleh Presiden Prabowo Subianto pada 21 Oktober 2024.
Namun, kini muncul berbagai nama-nama baru yang akan mengisi struktur organisasi Danantara tersebut sebelum diluncurkan pada 24 Februari 2025. Salah satu nama yang muncul di permukaan menjadi bos Danantara adalah Pandu Patria Sjahrir yang merupakan keponakan dari Luhut Binsar Pandjaitan. Bahkan, ada juga nama-nama seperti Rosan Roeslani hingga Dony Oskaria.
Untuk itu, Fakhrul menekankan orang-orang yang mengisi struktur organisasi sebagai pengelola Danantara harus mengerti dengan lingkungan bisnis, serta keuangan di Indonesia, serta bisa mengejawantahkan visi dan misi dari Presiden Prabowo terkait Danantara seperti ketahanan energi, ketahanan teritorial, ketahanan pangan, hilirisasi yang berujung untuk kesejahteraan rakyat.
"Terkait dengan Danantara, orang-orang yang ditunjuk sebaiknya adalah mereka yang memiliki track record mumpuni dalam pengelolaan korporasi, baik secara domestik maupun secara internasional, agar Danantara dapat menerapkan best practices serta good corporate governance berkelas dunia," katanya.
Fakhrul menambahkan, pengelola Danantara juga harus memiliki integritas yang sangat baik dan terbebas dari masalah-masalah manajemen korporasi Indonesia di masa selalu seperti kasus Jiwasraya, BUMN karya dan lain sebagainya.
"Dalam pemilihan profesional sebaiknya juga ada kombinasi tim dengan latar belakang keuangan/investasi dan expert dalam industri masing-masing (industrialis)," katanya.
Di sisi lain, menurut Fakhrul orang-orang profesional di tubuh Danantara dari bidang keuangan dan investasi bisa mencari sumber investasi baru dan memilih investasi yang terbaik untuk menghasilkan imbal hasil yang terukur. Sementara, profesional dengan latar belakang industrialis bisa berkontribusi memajukan BUMN dari sisi tata kelola, pengembangan usaha, operational excellence, efisiensi, dan berbagai aspek pengelolaan korporasi lainnya agar BUMN dapat bersaing secara global.
"Dalam prakteknya, keseimbangan pencapaian target investasi, yakni IRR (Internal Rate of Return) dan pencapaian tujuan pengembangan industri dalam negeri harus dilakukan secara berimbang, supaya tujuan nasional danantara bisa tercapai dengan baik," ujarnya.