Pendapatan PTBA Tembus Rp43 Triliun, India Kembali Jadi Pasar Ekspor Utama Batu Bara
IDXChannel - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mencatat kinerja positif sepanjang tahun lalu. Perseroan mencatat penjualan hingga 42,9 juta ton batu bara pada 2024 dengan total pendapatan Rp42,8 triliun.
India kembali menjadi pasar ekspor utama bagi PTBA dalam tiga tahun berturut-turut, menggeser posisi China yang sebelumnya menjadi konsumen batu bara BUMN tambang itu.
Dalam laporan keuangan auditan PTBA dikutip Senin (31/5/2025), penjualan batu bara perseroan yang terbesar didominasi oleh pasar Indonesia. PTBA selama ini dikenal sebagai perusahaan yang patuh menjalankan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) pemerintah.
Pendapatan PTBA dari pasar domestik menembus Rp18,8 triliun atau 44 persen dari total pendapatan. Di dalam negeri, PTBA banyak mengirim batu bara ke PLN Group (30 persen), lalu MIND ID (8,4 persen), serta Huadian Bukit Asam Power (3,5 persen).
Untuk pasar ekspor, PTBA mengirim batu bara terbesar ke India sejak 2022, menggeser China. Tahun lalu, pendapatan BUMN tambang itu dari India mencapai Rp7,46 triliun.
Di posisi kedua ada Vietnam yang menggeser Korea Selatan (Korsel) dengan pendapatan Rp3,5 triliun. Korsel kini ada di posisi ketiga bagi PTBA sebesar Rp3,2 triliun.
Pada 2024, penjualan batu bara PTBA naik 13 persen menjadi 42,9 juta ton. Penjualan tersebut sebanyak 22,6 juta ton atau 53 persen dikirim ke pasar domestik dan sisanya 20,3 juta ton atau 47 persen diekspor.
Perseroan mempunyai target jangka panjang bisa menjual lebih dari 75 juta ton batu bara pada 2029. Porsi ekspor bakal ditingkatkan menjadi 69 persen dan 31 persen untuk DMO.
"Kami tetap berkomitmen untuk mendukung ketahanan energi nasional sekaligus mengambil kesempatan untuk mengekspor lebih banyak sehingga bisa mencetak lebih banyak keuntungan dan memaksimalkan nilai untuk pemegang saham," kata manajemen beberapa waktu lalu.
Berikut daftar negara yang menjadi tujuan ekspor PTBA di 2024:
1. India Rp7,46 triliun (+20 persen)
2. Vietnam Rp3,50 triliun (+195 persen)
3. Korea Rp3,18 triliun (-27 persen)
4. Bangladesh Rp1,90 triliun (+72 persen)
5. Thailand Rp1,77 trilun (+132 persen)
6. China Rp1,65 triliun (-46 persen)
7. Taiwan Rp1,18 triliun (+63 persen)
8. Kamboja Rp1,13 triliun (-20 persen)
9. Malaysia Rp1,05 triliun (+170 persen)
10. Filipina Rp646 miliar (-15 persen)
11. Jepang Rp503 miliar (-47 persen)
12. Lain-lain Rp32 miliar (-64 persen)
(Rahmat Fiansyah)