Motor Jarang Dipakai, Apakah Ganti Oli Berdasarkan Waktu atau Jarak Tempuh?

Motor Jarang Dipakai, Apakah Ganti Oli Berdasarkan Waktu atau Jarak Tempuh?

Otomotif | inews | Sabtu, 4 April 2026 - 09:26
share

JAKARTA, iNews.id – Banyak pemilik kendaraan masih menganggap penggantian oli motor cukup mengikuti jarak tempuh. Padahal, untuk motor yang jarang digunakan, patokan waktu justru lebih penting dibandingkan kilometer.

Motor yang lebih sering terparkir tetap membutuhkan perawatan rutin. Salah satu langkah krusial adalah mengganti oli secara berkala agar performa mesin tetap terjaga.

Dilansir dari laman Suzuki, meski motor jarang digunakan, kualitas oli tetap bisa menurun. Kondisi ini kerap diabaikan, padahal berpotensi menyebabkan kerusakan mesin jika dibiarkan terlalu lama.

Oli Tetap Menurun Meski Motor Jarang Dipakai

Oli motor tidak hanya aus karena pemakaian, tetapi juga bisa rusak akibat faktor waktu. Salah satunya karena proses oksidasi yang terjadi saat oli terpapar udara di dalam mesin.

Selain itu, motor yang jarang digunakan lebih rentan mengalami kondensasi. Uap air yang terbentuk bisa bercampur dengan oli dan menurunkan daya pelumasan.

Tak hanya itu, sisa pembakaran dan partikel kecil tetap tertinggal di dalam mesin. Jika tidak segera diganti, oli bisa mengendap dan membentuk lumpur yang berbahaya bagi komponen mesin.

Patokan Waktu Jadi Acuan Utama

Untuk motor yang jarang dipakai, penggantian oli sebaiknya dilakukan setiap 3 hingga 6 bulan sekali. Hal ini tetap berlaku meski jarak tempuh belum mencapai batas servis.

Selain itu, pemilik kendaraan juga disarankan mengikuti anjuran pabrikan. Umumnya, oli diganti setiap 2.000–4.000 kilometer atau maksimal 6 bulan, tergantung mana yang tercapai lebih dulu.

Jenis oli juga berpengaruh terhadap masa pakai. Oli sintetis biasanya lebih tahan lama dibanding oli mineral, namun tetap tidak disarankan digunakan lebih dari 6 bulan pada motor yang jarang dipakai.

Kenali Tanda Oli Harus Diganti

Pemilik motor juga perlu memperhatikan kondisi oli secara langsung. Salah satu tanda paling umum adalah perubahan warna menjadi hitam pekat.

Selain itu, tekstur oli yang terlalu kental atau justru terlalu encer menunjukkan kualitasnya sudah menurun. Kondisi ini membuat pelumasan tidak lagi optimal.

Gejala lain bisa dirasakan saat mesin mulai terasa kasar saat dinyalakan. Bahkan, munculnya bau terbakar dari oli juga menjadi indikasi pelumas harus segera diganti.

Risiko Jika Terlambat Ganti Oli

Menunda penggantian oli bisa berdampak serius pada mesin. Campuran uap air dengan oli lama berpotensi memicu karat pada komponen internal.

Selain itu, performa mesin akan menurun karena gesekan tidak lagi tereduksi dengan baik. Dampaknya, motor terasa kurang responsif saat digunakan.

Kondisi ini juga bisa membuat konsumsi bahan bakar menjadi lebih boros. Bahkan, oli yang sudah rusak dapat menyebabkan mesin cepat panas atau overheat.

Memahami pentingnya waktu penggantian oli, pemilik kendaraan dapat menjaga mesin tetap awet meski motor jarang digunakan.

Topik Menarik