Jejak Amerika Serikat saat Jadi Tuan Rumah Olahraga yang Repotkan Negara Peserta

Jejak Amerika Serikat saat Jadi Tuan Rumah Olahraga yang Repotkan Negara Peserta

Olahraga | sindonews | Jum'at, 28 Maret 2025 - 23:10
share

Lolosnya Iran ke Piala Dunia 2026, menyusul kemenangan atas Uni Emirat Arab dan hasil imbang kontra Uzbekistan, seharusnya menjadi momen sukacita bagi para penggemar sepak bola di negara tersebut. Namun, keberhasilan ini justru memunculkan kembali pertanyaan krusial mengenai kelayakan Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah turnamen akbar tersebut, bersama Kanada dan Meksiko.

Sebuah laporan dari New York Times dikutip dari Morning Star, Sabtu (29/3/2025), mengungkapkan bahwa pemerintahan Donald Trump mengusulkan larangan perjalanan baru yang menyasar 43 negara. Ironisnya, Iran termasuk dalam daftar tersebut, bersama dengan calon peserta Piala Dunia lainnya seperti Sudan dan Venezuela.

Negara-negara ini berpotensi menghadapi penangguhan visa penuh, yang secara efektif melarang warga negara mereka memasuki AS. Tak hanya itu, Iran masih tercatat dalam daftar Negara Sponsor Terorisme versi pemerintah AS, bersama Kuba, Korea Utara, dan Suriah.

Kondisi ini tentu akan mempersulit proses pengajuan visa bagi para penggemar, media, pemain, dan staf timnas Iran, bahkan berpotensi menggagalkan partisipasi Iran di Piala Dunia 2026, yang sebagian besar babak gugurnya akan dihelat di AS.

Lebih lanjut, daftar usulan pembatasan visa Donald Trump juga mencakup negara-negara calon peserta Piala Dunia lainnya seperti Burkina Faso, Haiti, Benin, Tanjung Verde, Liberia, Kongo DR dan Kamerun. Setidaknya satu negara lagi dari daftar 43 negara ini berpeluang lolos ke putaran final.

Sementara itu, dalam laporan dari Guardian AS menyebutkan bahwa FIFA mungkin merekayasa undian agar satu tempat non-tuan rumah memainkan seluruh pertandingan grupnya di luar Amerika Serikat. Opsi ini bisa saja diberikan kepada Iran, namun langkah tersebut akan mencederai integritas kompetisi dan kemungkinan besar bukan hanya Iran yang akan menghadapi masalah serupa.

Situasi ini kian memperkuat keraguan mengenai kesiapan Amerika Serikat untuk menyambut pengunjung dari seluruh dunia dan menyelenggarakan festival olahraga global sebesar Piala Dunia. Sorotan dunia olahraga akan tertuju pada AS dalam beberapa tahun ke depan, mengingat negara ini juga akan menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Panas 2028.

Bukan Masalah Baru

Masalah visa bagi partisipan acara olahraga di AS bukanlah isu baru dan tidak terbatas pada pemerintahan Donald Trump, meskipun situasinya tampak memburuk sejak ia kembali menjabat. Amerika Serikat memang dikenal sebagai destinasi yang rumit terkait masalah imigrasi dalam konteks olahraga.

Sebelumnya, kendala visa sering dialami oleh tim nasional dan klub dari kawasan Amerika Tengah dan Karibia yang berlaga di kompetisi kontinental di AS. Pembatalan pertandingan Liga Champions Concacaf (kini Piala Champions), tim yang bermain dengan skuad minim, hingga pengunduran diri dari kompetisi akibat masalah visa telah menjadi catatan kelam.

Pada 2021, Kuba harus menarik diri dari ajang Copa America, yaitu Piala Emas, karena masalah visa. Setahun kemudian, tim Haiti, Cavaly AS, harus membatalkan pertandingan mereka melawan New England Revolution, karena tidak dapat memperoleh visa untuk bepergian ke AS dan akibatnya mengundurkan diri dari Liga Champions.

Pada 2023, tim Haiti lainnya, Violette AC, hampir kehilangan kesempatan untuk mengalahkan tim MLS Austin FC yang ternyata merupakan kejutan bersejarah. Pada akhirnya, Violette berhasil mendatangkan cukup banyak pemain ke AS untuk bermain, tetapi hanya bisa menunjuk tiga pemain pengganti.

FIFA Bergerak Cepat?

Kondisi ini disadari betul oleh FIFA. Presiden Gianni Infantino dilaporkan menghabiskan lebih banyak waktu untuk berdiskusi dengan Donald Trump dibandingkan dengan para pemimpin Kanada atau Meksiko.

Hal ini mengindikasikan kekhawatiran FIFA bahwa pembatasan perbatasan AS di Bawah Donald Trump dapat mengganggu kelancaran turnamen yang sangat menguntungkan tersebut. Piala Dunia Antarklub FIFA yang akan digelar di AS pada musim panas ini bisa menjadi ujian awal terkait potensi masalah visa menjelang Piala Dunia 2026.

Namun, lolosnya Iran ke Piala Dunia 2026 dengan bayang-bayang larangan perjalanan Donald Trump menjadi sorotan yang lebih tajam. Amerika Serikat kini terlihat sebagai pilihan tuan rumah yang semakin problematik untuk Piala Dunia 2026.

Seperti halnya kontroversi seputar Qatar 2022 dan Arab Saudi 2034, masalah yang dihadapi saat ini sebenarnya sudah dapat diprediksi dan mencerminkan isu-isu yang lebih luas di luar ranah olahraga. Dunia menanti bagaimana solusi atas permasalahan ini akan ditemukan demi kelancaran pesta sepak bola terbesar sejagat.

Topik Menarik