Aktivis Luke Susilo Dianiaya OTK Usai Soroti Kasus Penyadapan Listyo Cs, Begini Kronologinya!
JAKARTA - Aktivis dari gerakan Terus Jadi Anti Pembual (Terjal), Luke Susilo menjadi korban dugaan penganiayaan oleh dua orang tidak dikenal di kawasan sekitar Penggilingan, dekat Pengadilan Negeri Jakarta Timur, pada Kamis (5/11) malam.
Akibat peristiwa tersebut, Luke mengalami luka robek serius di bagian bawah mata hingga harus mendapat penanganan spesialis bedah plastik.
“Kejadiannya pukul 23.00 WIB saat hendak pulang menuju Halte Busway Penggilingan usai memantau jalannya persidangan dugaan ijazah palsu Jokowi,”ujar Luke kepada iNews Media Group, dikutip, Minggu (8/11/2026).
Kejadian itu bermula saat dirinya berjalan dan mendengar percakapan keras dari sepasang pejalan kaki, yakni seorang bapak-bapak dan ibu-ibu, yang membahas ancaman hukuman 12 tahun penjara terkait Pasal 35 UU ITE.
Mendengar hal itu, Luke spontan melempar celotehan mengenai isu makar dan dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto yang menyeret nama mantan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
"Saya tidak menoleh ke belakang, saya hanya bersuara saja 'Kalau makar dihukum mati!'. Tiba-tiba bapak itu langsung menghampiri saya dan terjadi konflik verbal," ujar Luke.
Eskalasi konflik meningkat ketika situasi memanas dan Luke mengeluarkan telepon seluler miliknya untuk mendokumentasikan kejadian tersebut. Terduga pelaku yang panik lantaran enggan direkam berusaha merebut dan membanting HP korban hingga terjadi kontak fisik.
Perselisihan tersebut berujung pada aksi kekerasan fisik di tangga akses menuju halte busway. Terduga pelaku mencekik leher Luke dan melayangkan pukulan keras ke arah wajah.
"Pukulan itu mengenai bagian bawah mata saya sampai robek. Setelah dianalisis dokter bedah plastik, lukanya hampir mengenai tulang. Beruntung tidak sampai kena tulang, tapi tetap harus dijahit oleh dokter spesialis bedah plastik," papar Luke.
Namun tidak hanya diserang oleh pelaku pria, Luke juga mengaku mendapat tindakan kekerasan dari pelaku wanita yang mencengkeram dan mencakar wajahnya hingga meninggalkan bekas luka garukan.
Aksi penganiayaan berhenti setelah petugas halte busway melerai dan memberikan pertolongan pertama kepadanya.
Kendati mengalami penganiayaan fisik, Luke memutuskan untuk tidak melaporkan peristiwa kekerasan tersebut ke pihak kepolisian. Pasalnya dia enggan menghabiskan waktu untuk mengurus proses hukum terhadap orang yang tidak dikenalnya.
"Saya tidak melapor ke polisi karena prosesnya ribet dan memakan waktu. Ini jadi pelajaran bagi kita semua, kalau eskalasi konflik di jalanan sudah memanas, lebih baik mundur. Meski begitu, kejadian ini tidak akan menghentikan saya untuk terus berjuang mengungkapkan kebenaran dengan data valid," pungkasnya.









