Kamera Pengintai Tangkap Gambar 19 Macan Tutul Jawa Beserta Rantai Makanannya di TNBTS

Kamera Pengintai Tangkap Gambar 19 Macan Tutul Jawa Beserta Rantai Makanannya di TNBTS

Nasional | sindonews | Jum'at, 6 November 2026 - 11:46
share

Di tengah belantara Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), 160 kamera pengintai bekerja tanpa henti memantau gerak senyap salah satu satwa paling misterius di Pulau Jawa, macan tutul jawa (Panthera pardus melas). Setiap potret visual yang terekam membantu para peneliti mengurai tanda tanya besar seputar populasi, sebaran wilayah jelajah, hingga ketersediaan mangsa alami yang menopang kehidupan sang predator puncak sekaligus satwa endemik pulau Jawa.

Berdasarkan hasil analisa pada Agustus 2026, kamera pengintai yang dipasang di wilayah TNBTS hingga Maret 2026 berhasil mengidentifikasi 19 individu Macan Tutul Jawa, terdiri dari 7 jantan, 10 betina, dan 2 anakan. Sepanjang Januari 2024 hingga Agustus 2026 macan tutul jawa terdeteksi di 46 stasiun kamera pengintai atau 58 dari seluruh titik pemantauan. Lihat grafis:Keunikan Macan Tutul Jawa di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru

Deteksi paling banyak tercatat di kawasan hutan yang relatif terjaga. Selain mengandalkan tangkapan visual, tim peneliti juga mengumpulkan 44 sampel kotoran (scat) macan tutul untuk pemeriksaan DNA.

Fakta tersebut diungkap bertepatan dengan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) pada 5 November 2026. Informasi ini didapat usai PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui payung program creating shared value (CSV) Bakti BCA menemukan hasil analisa lapangan yang baru dalam rangkaian Java-Wide Leopard Survey (JWLS). Hal ini dijalankan Bakti BCA bersama Kementerian Kehutanan RI, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS), dan Yayasan SINTAS Indonesia.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan, pelestarian macan tutul jawa tidak dapat dipisahkan dari menjaga ekosistem hutan secara keseluruhan. Sebagai predator puncak keberadaannya merupakan indikator vital bagi kesehatan hutan yang menjadi penyangga tata air dan keanekaragaman hayati. ”Melalui pilar Bakti Lingkungan, kami mendukung kajian ilmiah ini guna memastikan setiap langkah intervensi konservasi bertumpu pada data dan kondisi lapangan,” kata Hera, Jumat (6/11/2026).Field Coordinator JWLS Region Timur, Ummi Farikhah atau akrab disapa Ika, mengatakan survei ini juga menemukan adanya 46 jenis satwa di Bromo Tengger Semeru, dengan 26 jenis di antaranya merupakan satwa mangsa potensial macan tutul. "Ketersediaan rantai pakan alami ini menjadi harapan besar bagi kelangsungan hidup macan tutul jawa,”ujarnya.

Untuk itu perlindungan dan pemulihan habitat, pemantauan populasi secara berkala yang disertai dengan penguatan konektivitas antarhabitat dan kapasitas pengelola kawasan dalam penanganan konflik antara manusia dan macan tutul jawa juga perlu ditingkatkan. Tidak kalah penting, upaya pelestarian membutuhkan dukungan dan peran aktif seluruh elemen masyarakat. ”Termasuk warga, komunitas lokal, serta perusahaan swasta yang tinggal dan berkegiatan di sekitar habitat macan tutul jawa,” jelasnya.

Kendati ketersediaan mangsa memberi optimisme, macan tutul tetap dibayangi fragmentasi habitat, penurunan keragaman genetik, serta risiko lainnya. Untuk memitigasi risiko tersebut, hasil awal Analisis Kesintasan Populasi (Population Viability Analysis/PVA) yang memproyeksikan daya tahan satwa hingga 100 tahun ke depan menempatkan populasi di TNBTS dalam kategori "risiko sedang", menandakan satwa ini berpeluang besar bertahan asalkan kawasan dikelola secara intensif dan konektivitas habitat terlindungi.

Di tingkat tapak, keberhasilan konservasi membutuhkan keselarasan dengan masyarakat lokal. Handrawilie Romneya Liefdie, warga Desa Penanggal, Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang, menuturkan dinamika masyarakat yang bermukim di perbatasan kawasan konservasi. Baca juga:Cara Membedakan Macan Tutul dan Kumbang di Kawasan Gunung Bromo dari Rekaman Kamera

Tidak sedikit warga yang merasa bangga bahwa satwa langka tersebut masih berkeliaran menjaga rimba. ”Untuk itu, sosialisasi berkala dan pelibatan warga sangat penting agar masyarakat memahami perilaku satwa, menjaga batas ruang yang aman, serta bersama-sama menolak perburuan liar demi menjaga keharmonisan ekosistem,” tuturnya.

Di lapangan, pengumpulan data berlangsung melalui kerja sama antara peneliti, petugas kawasan, dan komunitas lokal. Sejak 2024, JWLS juga menjalankan pelatihan teknik survei, manajemen kamera pengintai, serta analisis data untuk memperkuat kapasitas para pihak yang terlibat. Warga yang tinggal di sekitar hutan pun perlu memiliki pemahaman mengenai perilaku satwa, menjaga jarak aman, dan menghindari tindakan yang dapat memicu konflik menjadi bagian penting dari upaya hidup berdampingan.

Topik Menarik