Membuat Kebijakan demi Legacy?

Membuat Kebijakan demi Legacy?

Nasional | sindonews | Jum'at, 23 Oktober 2026 - 14:27
share

HendarmanDosen Sekolah Pascasarjana Universitas Pakuan, BogorKetua Tim Pakar Jabatan Fungsional Analis Kebijakan INAKI (Ikatan Nasional Analis Kebijakan)

ADA godaan yang selalu mengiringi kepemimpinan yaitu meninggalkan warisan yang dapat dikenang setelah masa jabatan berakhir. Dalam pemerintahan, keinginan itu tidak selalu keliru. Pemimpin memang diharapkan menghasilkan perubahan dan menghadirkan terobosan. Namun, persoalan muncul ketika keinginan meninggalkan legacy justru menjadi alasan untuk mempercepat lahirnya kebijakan tanpa analisis yang memadai.

Kebijakan publik bukan sekadar keputusan yang menunjukkan bahwa seorang pemimpin telah bekerja. Kebijakan harus menjawab persoalan masyarakat, menghasilkan manfaat nyata, dan dapat dipertanggungjawabkan dalam jangka panjang. Ukuran keberhasilan kepemimpinan seharusnya bukan seberapa banyak kebijakan diluncurkan selama masa jabatan, melainkan seberapa besar persoalan publik berhasil diselesaikan.

Antara Keinginan Membuat Sejarah dan Kebutuhan MasyarakatDalam praktik pemerintahan, kebijakan yang terlihat besar, cepat, dan mudah dipublikasikan seringkali lebih menarik secara politik dibandingkan perbaikan sistem yang prosesnya panjang dan hasilnya tidak langsung terlihat. Pembangunan fasilitas baru, peluncuran program nasional, perubahan kelembagaan, atau penggantian sistem yang sudah berjalan dapat menjadi simbol kepemimpinan. Akan tetapi, simbol perubahan tidak selalu identik dengan perubahan yang dibutuhkan masyarakat.

Persoalan menjadi lebih serius apabila kebijakan diputuskan sebelum masalahnya dipahami secara menyeluruh. Akibatnya, pemerintah berisiko menghabiskan anggaran untuk menyelesaikan masalah yang bukan prioritas, menciptakan beban administratif baru, atau mengganti sistem yang sebenarnya masih dapat diperbaiki dan bukan jelek sama sekali.William N. Dunn (2018) menekankan pentingnya penggunaan pengetahuan yang relevan untuk merumuskan dan memecahkan masalah publik. Menurutnya, kebijakan perlu dibangun melalui proses yang menghubungkan identifikasi masalah, perumusan alternatif, perkiraan konsekuensi, dan evaluasi hasil.

Kebijakan bukan semata-mata ekspresi kehendak pemimpin, melainkan keputusan yang memerlukan dasar pengetahuan dan pertimbangan yang dapat diuji. Namun, ini bukan berarti setiap kebijakan harus menunggu sampai seluruh informasi tersedia secara sempurna.

Dalam situasi darurat, keputusan cepat memang diperlukan. Namun, kecepatan tetap harus disertai pertimbangan yang memadai, proporsional terhadap risiko, dan diikuti evaluasi. Perlu dihindari ketergesa-gesaan yang bersumber dari ambisi politik, bukan dari urgensi masalah masyarakat.

Analisis Kebijakan sebagai Pengaman KeputusanAnalisis kebijakan seharusnya menjadi bagian penting sebelum pemerintah menetapkan keputusan strategis. Pertanyaan mendasarnya sederhana, yaitu masalah apa yang hendak diselesaikan, siapa yang paling terdampak, pilihan apa yang tersedia, berapa biaya yang dibutuhkan, serta manfaat apa yang akan diperoleh masyarakat?

Pertanyaan tersebut perlu dijawab melalui bukti, data, kajian ilmiah, konsultasi pemangku kepentingan, dan perbandingan alternatif. Pemerintah juga perlu memperhitungkan konsekuensi yang mungkin muncul, termasuk dampak terhadap kelompok rentan, kemampuan pelaksana di daerah, kebutuhan anggaran jangka panjang, dan kemungkinan kebijakan tidak mencapai sasaran.Analisis juga perlu menjawab pertanyaan kontrafaktual, yaitu apa yang mungkin terjadi jika kebijakan tidak dibuat? Bisa jadi masalah yang dihadapi masyarakat tidak membutuhkan program baru, melainkan perbaikan implementasi, koordinasi antarlembaga, penegakan aturan, atau penguatan kapasitas pelaksana. Tanpa membandingkan alternatif, pemerintah berisiko menganggap kebijakan baru sebagai satu-satunya jalan keluar.

Seyogianya analisis kebijakan tidak boleh diperlakukan sebagai formalitas untuk membenarkan keputusan yang telanjur dibuat. Analisis harus berlangsung sebelum keputusan final, ketika berbagai alternatif masih terbuka dan hasil kajian benar-benar dapat memengaruhi pilihan pemerintah.

Legacy yang Baik adalah Manfaat yang BertahanPemimpin tentu berhak memiliki visi dan meninggalkan warisan kepemimpinan. Namun, legacy yang berkualitas tidak harus berbentuk proyek besar, program baru, atau perubahan yang langsung terlihat selama masa jabatan. Warisan yang lebih bermakna justru dapat berupa sistem pelayanan yang semakin baik, kebijakan yang berkelanjutan, kelembagaan yang kuat, serta kemampuan masyarakat untuk menyelesaikan persoalannya secara mandiri.

Kebijakan yang baik juga harus melampaui kepentingan periode pemerintahan tertentu. Kebijakan pendidikan, misalnya, perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap peserta didik, guru, satuan pendidikan, pemerintah daerah, dan keberlanjutan pembiayaan. Keputusan yang menghasilkan perubahan cepat tetapi menimbulkan ketidakpastian bagi pelaksana atau membebani anggaran pada tahun-tahun berikutnya perlu dikaji kembali sebelum diterapkan secara luas.

Sebaiknya Pemerintah perlu menetapkan indikator keberhasilan sejak awal, mengukur perubahan yang benar-benar terjadi, dan membuka kemungkinan untuk memperbaiki atau menghentikan program yang tidak efektif.Kesediaan mengoreksi kebijakan bukanlah tanda kegagalan kepemimpinan. Sebaliknya, hal itu menunjukkan bahwa keputusan publik ditempatkan di atas kepentingan mempertahankan citra.Akhirnya, ukuran legacy seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa yang berhasil saya luncurkan selama memimpin?” Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Masalah masyarakat apa yang berhasil saya selesaikan, manfaat apa yang benar-benar mereka rasakan, dan apakah manfaat itu akan bertahan setelah saya tidak lagi memimpin?”

Kepemimpinan yang bertanggung jawab bukanlah kepemimpinan yang selalu ingin menjadi yang tercepat membuat kebijakan. Kepemimpinan yang bertanggung jawab adalah kepemimpinan yang mampu membedakan antara kebutuhan untuk segera bertindak dan godaan untuk segera dikenang.

Kebijakan publik bukan monumen bagi pemimpin, melainkan instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, sebelum terburu-buru meninggalkan legacy, pastikan terlebih dahulu bahwa kebijakan yang dibuat memang diperlukan, didukung analisis yang memadai, memiliki manfaat yang jelas, dan dapat dipertanggungjawabkan kepada generasi berikutnya.

Topik Menarik