Puan Maharani: Tenaga Kesehatan Harus Berempati, Termasuk kepada Pasien BPJS

Puan Maharani: Tenaga Kesehatan Harus Berempati, Termasuk kepada Pasien BPJS

Nasional | sindonews | Sabtu, 8 Agustus 2026 - 00:04
share

Ketua DPR RI Puan Maharani memberi perhatian terhadap isu nirempati tenaga kesehatan (nakes) kepada pasien BPJS Kesehatan yang belakangan tengah menjadi perhatian publik. Menurutnya, nakes harus memiliki empati kepada pasien.

"Pelayanan kesehatan jangan sampai kehilangan empati, karena ini menyangkut kemanusiaan dan sistem pelayanan publik. Tenaga kesehatan harus berempati kepada pasien, termasuk pasien BPJS,” kata Puan dalam keterangannya, Jumat (7/8/2026).

Puan juga menggarisbawahi tentang pelayanan rumah sakit yang dikeluhkan pasien. Ia mendorong pemerintah untuk mengevaluasi sistem pelayanan kesehatan nasional.

"Peristiwa ini harus menjadi pelajaran untuk evaluasi dan perbaikan pelayanan kesehatan terhadap pasien BPJS. Negara harus memastikan tidak ada pasien yang merasa ditinggalkan," ujarnya.

Baca Juga: KKI Telusuri Kasus Nakes yang Diduga Beri Komentar Nirempati ke Pasien BPJSPuan menilai rentetan peristiwa yang dimulai dari keluhan pasien atas lambatnya pelayanan rumah sakit, komentar bullying oknum-oknum nakes di media sosial, sampai kemudian pasien meninggal dunia, telah melampaui persoalan pelayanan di satu rumah sakit maupun perilaku individu.

"Peristiwa ini menyentuh hal yang paling mendasar dalam pelayanan kesehatan, yaitu kepercayaan masyarakat bahwa Negara akan hadir ketika seseorang berada dalam kondisi paling rentan," tutur mantan Menko PMK ini.

Ketika seorang pasien yang sedang berjuang mendapat perawatan menghadapi keterlambatan layanan dan kemudian menjadi objek komentar yang merendahkan martabatnya, kata Puan, yang dipertaruhkan bukan hanya citra profesi dalam layanan kesehatan. "Ini juga tentang kepercayaan publik terhadap sistem pelayanan kesehatan nasional."

Puan mendorong pemerintah untuk menjadikan kasus ini sebagai momentum melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas pelayanan kesehatan. Baik dari aspek kapasitas rumah sakit, fasilitas dan sistem kesehatan nasional, hingga budaya pelayanan yang dibangun di seluruh fasilitas kesehatan.

"Pelayanan kesehatan tidak cukup diukur dari tersedianya tenaga medis, tempat tidur, maupun pembiayaan melalui JKN, tetapi juga dari kemampuan sistem memastikan setiap pasien diperlakukan secara cepat, manusiawi, dan bermartabat tanpa membedakan latar belakang maupun status kepesertaannya," papar Puan.Karena itu, Puan mendorong pemerintah melakukan evaluasi nasional terhadap standar pelayanan pasien gawat darurat dan manajemen ketersediaan tempat tidur rumah sakit.

"Termasuk memastikan adanya sistem informasi kapasitas layanan yang terintegrasi secara nasional sehingga pasien tidak lagi menghadapi ketidakpastian ketika membutuhkan perawatan segera," ucapnya.

Puan juga meminta Pemerintah menetapkan standar nasional budaya pelayanan kesehatan yang menjadikan empati, penghormatan terhadap martabat pasien, serta akuntabilitas pelayanan sebagai bagian yang dievaluasi secara berkala.

"Karena dalam profesi pelayanan publik seperti di fasilitas kesehatan, pendekatan personal dan sistem layanan sama pentingnya dengan standar klinis," jelas Puan.

Mengenai aksi bullying dan nirempati nakes, Puan menilai pemerintah bersama organisasi profesi perlu memastikan setiap dugaan pelanggaran etik diproses secara transparan meski sejumlah nakes yang dimaksud telah menyampaikan permohonan maaf."Perlu ada investigasi lebih mendalam, apakah ada dampak dari pasien karena di-bully di media sosial. Dan harus ada penyelidikan terhadap pelaku untuk memberikan kepastian kepada masyarakat bahwa profesi di sektor layanan kesehatan memiliki mekanisme koreksi yang tegas."

Puan menyebut, pelayanan kesehatan adalah salah satu wajah paling nyata tentang kehadiran negara bagi rakyatnya. "Tidak boleh ada masyarakat yang kehilangan harapan ketika mencari pertolongan medis. Negara harus memastikan setiap orang yang datang ke fasilitas kesehatan memperoleh pelayanan yang cepat, bermartabat, dan penuh empati," pungkasnya.

Sebelumnya, viral di media sosial komentar sejumlah dokter dan tenaga kesehatan yang dinilai tidak berempati terhadap seorang pasien pengguna BPJS Kesehatan. Setelah komentarnya viral, mereka meminta maaf.

Topik Menarik