Terungkap, Siswa Ledakkan Bom di MAN 3 Padang Ternyata Korban Bullying

Terungkap, Siswa Ledakkan Bom di MAN 3 Padang Ternyata Korban Bullying

Nasional | okezone | Kamis, 16 Juli 2026 - 13:04
share

JAKARTA - Polisi mengungkap pelajar berinisial R (17) yang membawa bom rakitan dan meledakkannya di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, Sumatera Barat, diduga menjadi korban perundungan (bullying) oleh teman-temannya.

Kabid Humas Polda Sumbar Kombes Pol Susmelawati Rosya menjelaskan R telah mengalami perundungan tersebut sejak duduk di kelas 2 SMA.

“Karena si anak dari duduk kelas 2 dia sudah di-bully. Sekarang dia sudah kelas 3. Sejak pertama duduk di kelas 2, dia sudah di-bully sama teman-teman kelasnya,” kata Susmelawati saat dihubungi, Kamis (16/7/2026).

Ia menduga, perundungan yang diterima R menimbulkan masalah psikologis hingga mendorongnya melakukan aksi tersebut. “Jadi, tindakan ini kemungkinan merupakan akumulasi dari beban tekanan psikologis yang mendalam,” ujar dia.

Diketahui, ledakan terjadi pada Selasa 14 Juli 2026 di MAN 3, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tengah, Kota Padang. Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun korban luka dalam peristiwa tersebut. Polisi juga telah mengamankan barang bukti yang berkaitan dengan ledakan.

Sebelumnya, polisi memastikan ledakan yang sempat menggegerkan lingkungan sekolah itu berasal dari bom rakitan dengan daya ledak rendah atau low explosive.

"Dari beberapa bom rakitan yang dibuat, hanya satu meledak (low explosive) di samping kelas,” kata Juru Bicara Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Mayndra Eka Wardhana, Rabu 15 Juli 2026.

Mayndra menyebutkan bahwa R belajar merakit bom dari internet dan terinspirasi kasus SMAN 72 Jakarta beberapa waktu lalu. “Pelaku juga mengaku mempelajari pembuatan bahan peledak secara daring dan terinspirasi oleh peristiwa bom di SMA Negeri 72 Jakarta pada tahun 2025,” ujar dia.

Kendati pihaknya masih melakukan pendalaman. Berdasarkan keterangan awal pelaku, perangkat tersebut diduga dirakit secara mandiri menggunakan bahan-bahan yang diperoleh secara daring dan dibuat di rumah tanpa sepengetahuan orangtuanya.

“Pelaku juga mengaku telah bergabung dalam sejumlah grup daring yang membahas pembuatan bahan peledak. Seluruh pengakuan tersebut masih dalam proses verifikasi dan pendalaman lebih lanjut oleh aparat penegak hukum," ungkap Mayndra.

Topik Menarik