Jro Bima, Memperluas Pengabdian untuk Bali Lewat Jalur Politik
DENPASAR, iNews.id - Bagi banyak masyarakat Bali, Jro Bima bukanlah sosok yang asing. Selama bertahun-tahun, dia dikenal aktif mendampingi warga yang menghadapi berbagai persoalan, mulai dari sengketa lahan hingga isu-isu sosial kemasyarakatan.
Namun bagi Jro Bima, pengabdian tidak cukup hanya dilakukan melalui aksi sosial. Ada ruang yang lebih luas untuk memperjuangkan kepentingan masyarakat Bali. Karena itulah, pria bernama lengkap I Ketut Putra Ismaya Jaya ini terjun ke dunia politik.
"Saya berusaha dengan kemampuan yang saya miliki untuk membantu masyarakat Bali yang memerlukan bantuan. Saya akan membela tanah kelahiran ini," katanya.
Lahir di Amlapura, Karangasem, pada 24 Mei 1978, Jro Bima tumbuh dalam lingkungan yang lekat dengan nilai-nilai adat dan budaya Bali. Kedekatan dengan akar tradisi itulah yang membentuk kepeduliannya terhadap berbagai persoalan masyarakat, terutama yang berkaitan dengan hak-hak warga lokal dan pelestarian budaya.
Setelah keluar dari Laskar Bali, dia bersama sejumlah rekan mendirikan Yayasan Kesatria Keris Bali (YKKB). Melalui yayasan tersebut, Jro Bima aktif mendampingi warga sekaligus mengawal berbagai isu sosial dan kemasyarakatan di Bali.
Kehadirannya juga dikenal luas melalui media sosial dan kanal YouTube. Lewat berbagai platform tersebut, dia rutin menyuarakan aspirasi warga sekaligus mendorong lahirnya solusi atas berbagai persoalan di tengah masyarakat.
Di luar aktivitas sosial, Jro Bima memiliki perhatian besar terhadap pelestarian adat dan budaya Bali. Dia telah menjalani pawintenan sebagai pemangku dan ngayah di Pura Candi Narmada Tanah Kilap sebagai bentuk pengabdian terhadap nilai-nilai spiritual yang diwariskan leluhur.
Baginya, menjaga Bali bukan sekadar mempertahankan warisan budaya. Tetapi juga memastikan nilai-nilai yang membentuk identitas masyarakat tetap hidup di tengah perubahan zaman. Semangat itu sejalan dengan filosofi Nindihin Bali yang menekankan pentingnya menjaga kehormatan, kebenaran dan martabat leluhur.
"Bali adalah warisan yang harus kita jaga bersama. Kalau bukan kita yang peduli terhadap masyarakat, adat dan budaya Bali, lalu siapa lagi?," ucapnya.
Meski telah lama bergerak di jalur sosial, Jro Bima menilai masih banyak persoalan yang membutuhkan perjuangan melalui ruang kebijakan. Pandangan itulah yang kemudian membawanya bergabung dengan Partai Perindo.
“Saya masuk politik bukan untuk mencari jabatan. Saya ingin bisa berbuat lebih banyak dan menghadirkan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat Bali,” katanya.
Kini, sebagai Ketua DPW Partai Perindo Bali, Jro Bima berupaya membangun partai yang dekat dengan masyarakat, sekaligus memperkuat struktur organisasi hingga ke akar rumput.
Dia menargetkan Perindo Bali menjadi kekuatan politik yang semakin solid menjelang Pemilu 2029 dengan melahirkan lebih banyak kader yang mampu mewakili aspirasi masyarakat di lembaga legislatif.
"Saya ingin Partai Perindo menjadi sarana untuk membawa perubahan besar bagi Bali, menjaga kelestarian budaya, serta menyiapkan masa depan yang lebih baik bagi anak cucu kita," ucapnya.
Bagi Jro Bima, politik bukanlah perubahan arah perjuangan, melainkan instrumen untuk memperluas pengabdian yang selama ini dilakukannya melalui jalur sosial. Sebab pada akhirnya, seluruh perjalanan itu bermuara pada satu tujuan: menjaga Bali agar tetap kokoh dalam budaya, kuat dalam identitas, dan memberi masa depan yang baik bagi generasi penerusnya.










