Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda

Kisah Cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske, Dipisahkan Penjara hingga Politik Kolonial Belanda

Nasional | sindonews | Sabtu, 20 Juni 2026 - 05:15
share

SUTAN SJAHRIR lebih sering dikenang sebagai tokoh intelektual dan Perdana Menteri (PM) pertama Indonesia. Namun di balik perjuangannya melawan kolonialisme Belanda hingga ditetapkan sebagai pahlawan nasional, tersimpan kisah cinta yang tak kalah dramatis dengan novel romantis.

Perempuan itu bernama Maria Johanna Duchâteau atau yang akrab disapa Maria Mieske. Kisah cinta keduanya bermula saat Sjahrir menempuh pendidikan di Belanda pada awal dekade 1930-an.

Baca juga: Lika-liku Cinta Sejati Jenderal Kopassus AM Hendropriyono, Taklukkan Hati dengan Topi hingga Jualan Es Mambo

Di negeri kincir angin tersebut, Sjahrir aktif dalam berbagai organisasi mahasiswa dan pergerakan anti-kolonial. Di lingkungan pergaulan itulah dia bertemu Maria, perempuan Belanda yang dikenal cerdas dan memiliki pandangan progresif.

Pertemuan yang awalnya diwarnai diskusi mengenai politik, sastra, dan kemanusiaan lambat laun berkembang menjadi hubungan yang lebih dalam. Maria terpesona oleh kecerdasan serta idealisme Sjahrir, sementara Sjahrir menemukan sosok yang mampu memahami cara berpikirnya yang jauh melampaui zamannya.

Namun hubungan itu tidak berjalan mulus. Saat berkenalan dengan Sjahrir, Maria masih berstatus istri aktivis sosialis Belanda, Salomon Tas. Situasi tersebut membuat hubungan mereka menjadi perbincangan di kalangan aktivis politik Belanda.

Baca juga: Kisah Cinta Jenderal Sudirman dengan Siti Alfiah, Gambaran Tentang Cinta yang Tak Memandang Harta

Meski demikian, cinta keduanya terus berkembang. Ketika Sjahrir kembali ke Hindia Belanda untuk melanjutkan perjuangan politiknya, Maria memutuskan menyusul pria yang dicintainya. Pada April 1932, keduanya menikah di Medan setelah Maria memeluk agama Islam.

Pernikahan tersebut ternyata tidak bertahan lama dalam pengakuan hukum kolonial. Pemerintah Belanda mempersoalkan status perceraian Maria yang dianggap belum sepenuhnya selesai. Akibatnya, pernikahan mereka dibatalkan dan Maria terpaksa kembali ke Belanda.Perpisahan itu menjadi awal babak paling menyedihkan dalam hubungan mereka. Sjahrir kemudian ditangkap pemerintah kolonial dan dibuang ke Boven Digoel sebelum dipindahkan ke Banda Neira. Jarak ribuan kilometer membuat pasangan itu hanya bisa saling menyapa melalui surat.

Baca juga: 3 Fakta Kisah Cinta Jenderal Andika Perkasa, Berawal dari Perjodohan yang Dirancang Jenderal AM Hendropriyono

Dari balik pengasingan, Sjahrir menulis puluhan surat yang berisi kerinduan mendalam kepada Maria. Surat-surat tersebut bukan hanya ungkapan cinta, tetapi juga refleksi pemikiran seorang pejuang kemerdekaan tentang kebebasan, demokrasi, dan masa depan Indonesia.

Dalam banyak suratnya, Sjahrir menggambarkan kesepian hidup di pengasingan. Maria menjadi salah satu sumber kekuatan yang membuatnya mampu bertahan menghadapi tekanan politik kolonial Belanda.

Sayangnya, waktu dan keadaan menjadi lawan yang terlalu kuat bagi hubungan mereka. Bertahun-tahun hidup terpisah membuat ikatan cinta itu perlahan merenggang. Setelah Indonesia merdeka dan perjalanan politik Sjahrir memasuki babak baru, hubungan keduanya akhirnya berakhir dengan perceraian pada 1948.

Meski tidak berakhir bahagia, kisah cinta Sutan Sjahrir dan Maria Mieske tetap menjadi salah satu roman paling mengharukan dalam sejarah Indonesia. Cinta mereka harus menghadapi tembok penjajahan, pengasingan, dan intrik politik kolonial yang pada akhirnya memisahkan dua insan yang pernah saling mencintai.

Kisah ini menunjukkan bahwa di balik sosok besar seorang pejuang kemerdekaan, terdapat cerita pribadi yang penuh pengorbanan. Bagi Sjahrir, perjuangan merebut kemerdekaan bangsa ternyata harus dibayar dengan kehilangan perempuan yang pernah menjadi cinta terbesarnya.

Topik Menarik