Ketua BEM UI Pastikan Bakal Kembali Gelar Aksi di Bundaran HI
JAKARTA - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI), Yatalathof Ma’shum Imawan menegaskan akan kembali menggelar aksi di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, dengan mengajak berbagai elemen mahasiswa dan masyarakat untuk menyuarakan berbagai persoalan yang dinilai membebani rakyat.
Diketahui, BEM UI sebelumnya telah menggelar aksi di Bundaran HI pada Jumat 12 Juni 2026. Rencana aksi lanjutan tersebut disampaikan Yatalathof saat menjadi narasumber dalam program Rakyat Bersuara di iNews TV, Rabu (17/6/2026) malam.
“Yang pasti dalam hal ini BEM UI akan mengajak seluruh BEM dan juga elemen masyarakat lainnya untuk kita turun lagi di Bundaran HI. Tanggalnya akan kita tentukan nanti akan kita umumkan. Masih ada konsolnas dulu, kita konsolidasi,” ujar Yatalathof.
Menurutnya, aksi tersebut bertujuan untuk menyuarakan berbagai persoalan yang disebutnya sebagai "kemacetan mobilitas sosial" yang dirasakan masyarakat saat ini. “Yang penting adalah agar kemacetan mobilitas sosial, kemacetan lapangan kerja, dan kemacetan cara bertahan hidup, serta masa depan bisa didobrak oleh bersatunya para rakyat ini, begitu kira-kira,” imbuhnya.
Yatalathof menilai masyarakat saat ini menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat. Ia mencontohkan kenaikan harga kebutuhan pokok serta meningkatnya biaya hidup yang dirasakan langsung masyarakat.
“Itu kan sudah jelas ya ketika kita datang ke toko kelontong misalkan harga-harga pada naik begitu kan. Kemudian ketika kita ingin bertransportasi, harga BBM juga naik begitu yang non subsidi Pertamax,” ujarnya.
Selain persoalan ekonomi, Yatalathof juga menyoroti isu ketimpangan dan dugaan praktik korupsi yang kerap menjadi sorotan publik. Menurutnya, di tengah berbagai persoalan tersebut masih banyak tenaga pendidik yang menerima penghasilan di bawah standar kebutuhan hidup layak.
“Terus juga misalkan kita bisa melihat bahwa ketika kita buka berita, ketika kita bangun pagi itu isinya adalah ketidakadilan misalkan MBG korupsi triliunan per bulan gitu kan. Tapi sisi lain kita juga melihat kenyataan bahwa ketika ke kampus atau ke sekolah, guru atau dosen kita gaji yang masih dibawah UMR begitu,” paparnya.
“Terus juga saudara-saudara kita ketika berobat kesehatan BPJS-nya juga masih iurannya cukup tidak terjangkau, cukup mahal dengan kondisi sekarang begitu kan,” tambah Yatalathof.
Ia menegaskan berbagai persoalan tersebut menjadi alasan mahasiswa untuk terus menyuarakan aspirasi melalui aksi turun ke jalan. “Hal-hal itulah yang akan membuat kami selalu turun ke jalan,” tegasnya.









