Kisruh SPMB Jabar, Sekolah Swasta Gratis Kini Diserbu Calon Siswa dan Orang Tua
CIREBON, iNews.id - Kisruh Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) di Jawa Barat memasuki tahap baru. Sekolah swasta yang ditetapkan sebagai mitra program sekolah gratis oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat kini diserbu calon pendaftar dan orang tua siswa.
Salah satu sekolah swasta gratis yakni SMA Telekomunikasi Sekar Kemuning di Cirebon. Sejak Rabu (17/6/2026) pagi, sekolah tersebut mulai didatangi calon peserta didik bersama orang tua mereka untuk memastikan informasi terkait mekanisme pendaftaran program tersebut.
Sebagian besar pendaftar merupakan siswa yang sebelumnya tergeser dari sekolah negeri, termasuk dari jalur sekolah pilihan pertama.
Kedatangan calon siswa ini tidak langsung diikuti pendaftaran, melainkan masih sebatas memastikan kejelasan informasi terkait kebijakan sekolah gratis yang digulirkan Pemprov Jabar.
Banyak orang tua mengaku masih ragu dan ingin memastikan mekanisme program tersebut, terutama setelah adanya kisruh dalam proses SPMB sebelumnya. Mereka juga mengkhawatirkan kejadian serupa kembali terulang, mengingat sebelumnya sejumlah calon siswa disebut mengalami tekanan psikologis akibat tidak lolos di sekolah pilihan.
Salah satu orang tua pendaftar, Retno Apriliana, mengaku kebingungan dengan informasi yang diterima selama proses SPMB berlangsung.
"Kalau dari kami itu sebenarnya informasi sangat kurang. Hanya dengar katanya, katanya, akhirnya kami terjebak di SPMB 1, SPMB 2 lalu ada kendala di kuota," ujarnya, Rabu (17/6/2026).
Sementara itu, orang tua lainnya, Santi Aprianti, mengaku sedih melihat kondisi anaknya yang gagal masuk sekolah pilihan.
"Kami orang tua sedih melihat anak down, menangis ingin sekolah di sekolah favorit tapi terkendala SPMB ini," katanya.
Pihak SMA Telekomunikasi Sekar Kemuning membenarkan adanya lonjakan jumlah kunjungan dan pendaftar dalam beberapa hari terakhir dibandingkan masa awal pemetaan penerimaan siswa.
Wakil Kepala Sekolah SMA Telekomunikasi, Jaenul Ikhsan, menyebut peningkatan tersebut cukup signifikan.
"Dampak dari fenomena SPMB provinsi, sebelumnya yang mendaftar atau berkunjung masih minim, sehari cuma dua. Setelah kisruh SPMB, kunjungan orang tua calon siswa ke sekolah kami meningkat sampai 15-an," ujarnya.
Namun demikian, pihak sekolah menegaskan bahwa status mitra sekolah swasta gratis tersebut merupakan bentuk kerja sama, bukan sepenuhnya pembiayaan penuh dari pemerintah provinsi.
Kisruh SPMB Jawa Barat ini menjadi perhatian publik karena dinilai masih menyisakan kebingungan di masyarakat, terutama terkait sistem kuota dan penempatan siswa. Sejumlah pihak berharap pemerintah daerah dapat memberikan penjelasan lebih terbuka agar tidak terjadi kesalahpahaman dan keresahan di kalangan orang tua maupun calon peserta didik.










