LKK-UNPAM Perkuat Harmonisasi Keagamaan di Era Modern
Universitas Pamulang (Unpam) melalui Lembaga Kajian Keagamaan (LKK-UNPAM) menggelar Seminar Nasional Keagamaan bertajuk “Harmonisasi Lintas Iman: Reorientasi Nilai-Nilai Religiusitas untuk Menjawab Tantangan Peradaban Modern”. Seminar digelar di Aula H Darsono Gedung Viktor Kampus 2 Universitas Pamulang, Jalan Raya Puspiptek, Tangerang Selatan, Banten, pada Kamis (21/05/2026).
Event ini berlangsung hangat dan interaktif dengan format talkshow yang dipandu moderator Muhammad Mamduh Nuruddin, yang dihadiri Rektor Universitas Pamulang, Dr HE Nurzaman dan oleh Sekretaris Yayasan Sasmita Jaya, dr Safitri Rahayu, serta Kepala LKK Dr Sofyan Hadi Musa. Acara berlangsung dengan meriah dan ditutup dengan tanya jawab serta sesi foto bersama.. Empat narasumber hadir dari latar belakang agama berbeda, yakni Habib Isa Al-Kaff, Pdt Marcel Saerang, Bhante Dhirapunno, serta Assoc. Prof Yan Mitha Dhaksana.
Baca juga: Dosen Ilmu Komunikasi Unpam Edukasi Siswa SMA Al-Adzkar soal Dampak TikTok pada Konsep Diri
Dalam pemaparannya, Pdt Marcel Saerang menegaskan pentingnya toleransi di tengah kehidupan masyarakat modern yang majemuk. Menurutnya, seminar lintas iman seperti ini menjadi langkah nyata untuk meminimalkan sikap intoleransi, khususnya di lingkungan kampus.
“Universitas Pamulang memiliki visi tidak hanya religius tetapi juga nasionalis. Dengan adanya kegiatan ini, kita dapat menjaga nilai-nilai religius sekaligus nilai-nilai humanis di kampus,” ujarnya.Dia menambahkan bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan sosial yang harus dirawat melalui dialog, saling memahami, dan menghormati perbedaan keyakinan.
Sementara itu, Habib Isa Al-Kaff menyampaikan bahwa ajaran Islam menempatkan cinta kasih sebagai fondasi utama kehidupan manusia. Ia mengutip Surat Al-Anbiya ayat 107 yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Baca juga: Antisipasi Krisis, Ini Isi Pertemuan Prabowo dan Tokoh Ekonomi Nasional di Istana
Istri dan Anak Bandar Koh Erwin Ditangkap Terkait Pencucian Uang Narkoba, Ini Penampakannya!
“Islam hadir membawa cinta dan kasih sayang, bukan hanya untuk umat Islam, tetapi untuk seluruh manusia dan seluruh makhluk,” ungkapnya.Habib Isa juga menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan sebagai Asy-Syifa atau obat sekaligus rahmat bagi kehidupan manusia. Islam mengedepankan ajaran kasih sayang. Menurutnya, nilai kebaikan tidak akan sempurna tanpa adanya kepedulian sosial dan keikhlasan berbagi kepada sesama.
“Islam mengajarkan bahwa kita tidak akan mencapai kesempurnaan kebaikan sampai kita mau memberikan apa yang kita cintai kepada orang lain,” katanya.
Pandangan mengenai pentingnya cinta dan toleransi juga disampaikan oleh Bhante Dhirapunno. Dalam perspektif agama Buddha, toleransi lahir dari cinta kasih yang tulus sehingga tidak melahirkan kebencian dalam menghadapi perbedaan.
“Jika toleransi didasari cinta, maka perbedaan bukan menjadi alasan perpecahan, tetapi menjadi jalan untuk hidup berdampingan dengan damai dan bahagia,” jelas Bhante.
Dia menggambarkan suasana seminar sebagai contoh nyata harmonisasi lintas iman. Menurutnya, kehadiran tokoh agama berbeda dalam satu panggung menunjukkan bahwa manusia tetap dapat saling menghargai tanpa iri dan kebencian.“Kita disatukan oleh cinta dan semangat bergandengan tangan. Cinta tidak harus dibatasi oleh perbedaan agama,” tambahnya.
Narasumber lainnya, Yan Mitha Dhaksana menjelaskan bahwa agama Hindu memandang perbedaan sebagai bagian alami kehidupan yang harus diterima dengan kebijaksanaan. Yan, begitu Ia disapa, mengibaratkan perbedaan manusia seperti sungai yang mengalir dan pohon yang tumbuh untuk memberi manfaat bagi kehidupan lain.
“Itulah esensi manusia, yaitu hadir untuk memberi manfaat kepada sesama,” ujarnya.
Yan juga menilai Universitas Pamulang sebagai kampus yang inklusif karena mampu menerima keberagaman, baik dari sisi agama maupun latar belakang sosial, termasuk mahasiswa dan dosen penyandang disabilitas.“LKK menjadi ruang bersama untuk seluruh agama. Kajian yang dilakukan tidak hanya untuk satu kelompok, tetapi untuk semua,” katanya.
Seminar Nasional Keagamaan ini mendapat antusiasme tinggi dari peserta yang terdiri atas mahasiswa, dosen, dan masyarakat umum. Melalui kegiatan tersebut, LKK-UNPAM berharap nilai-nilai religiusitas tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga diwujudkan dalam sikap saling menghormati, menghargai perbedaan, dan memperkuat persatuan bangsa di tengah tantangan peradaban modern yang semakin kompleks.










