Bahaya Olahraga saat Sakit, Dokter Ungkap Picu Kerusakan Otot hingga Gagal Ginjal Akut
JAKARTA, iNews.id - Berolahraga saat tubuh sedang kurang fit atau sakit masih sering dianggap dapat mempercepat proses penyembuhan. Padahal, anggapan tersebut tidak benar. Memaksakan aktivitas fisik ketika tubuh sedang melawan infeksi justru berisiko memperlambat pemulihan hingga memicu komplikasi serius.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr Tirta Mandira Hudhi mengingatkan bahwa saat seseorang sakit, sistem imun sedang berada dalam kondisi tertekan sehingga tubuh membutuhkan energi untuk proses penyembuhan, bukan untuk aktivitas fisik yang berat.
"Itu fakta, ketika kita sakit imunitas kita itu lagi drop, dan tubuh kita lagi kena pressure atau stress. Sehingga tubuh tuh memerlukan energi tambahan untuk me-recover infeksi sistemik tersebut. Apalagi kalau penyakitnya tuh berat kayak DBD, demam tifoid, diare, keracunan," ujar dr Tirta dalam unggahan video di akun Instagram pribadinya, dikutip Jumat (7/8/2026).
Menurutnya, memaksakan olahraga saat tubuh sedang mengalami infeksi sistemik justru akan menambah beban kerja tubuh. Akibatnya, proses pemulihan menjadi lebih lama dan infeksi berpotensi berkembang hingga menyerang organ lain.
"Kalau misalkan dia kena infeksi sistemik dan memaksakan untuk olahraga, itu bebannya tambah berat. Bisa kena di infeksinya lebih lama, atau bisa kena ke organ lainnya yang lebih parah," katanya.
dr Tirta mencontohkan kondisi seseorang yang tetap mengikuti lari maraton meski sedang demam dan hanya tidur selama dua jam. Kondisi tersebut sangat berbahaya karena dapat memicu dua komplikasi serius sekaligus, yakni rhabdomyolysis dan acute kidney injury atau cedera ginjal akut.
"Contoh, ada orang demam, terus tidurnya cuma dua jam, lalu dia nekat half marathon di pagi. Dia akan kena dua penyakit itu, bisa riskan rhabdomyolysis sama acute kidney injury," ujarnya.
Dia menjelaskan, rhabdomyolysis merupakan kondisi ketika tubuh kehabisan cadangan energi sehingga mulai memecah jaringan otot sebagai sumber energi. Proses tersebut menyebabkan sel-sel otot rusak dan dapat membahayakan nyawa.
"Rhabdomyolysis tuh ketika seseorang dalam kondisi pressure kuat, tubuh udah kehilangan cadangan energi, glikogen habis, fat habis, yang dipecah tuh adalah massa otot. Nah, massa otot kalau dipecah munculnya jadi sel otot yang pecah, jadinya rhabdomyolysis. Hancur itu, mati, kematian ending-nya," katanya.
Selain itu, olahraga saat sakit juga berisiko memicu acute kidney injury, yaitu kondisi ketika ginjal tiba-tiba berhenti berfungsi. Gangguan ini dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa apabila tidak segera ditangani.
"Terus yang kedua acute kidney injury, ketika ginjal berhenti bekerja secara dadakan, ending-nya kematian," ujarnya.
Karena itu, dr Tirta mengimbau masyarakat untuk mengutamakan istirahat dan memberikan waktu bagi tubuh untuk memulihkan diri saat sedang sakit. Setelah kondisi benar-benar pulih, barulah aktivitas olahraga dapat dilakukan kembali secara bertahap agar tidak menimbulkan risiko kesehatan yang lebih serius.










