Tips Hindari Scam Trading, Jangan Mudah Percaya Profit Instan

Tips Hindari Scam Trading, Jangan Mudah Percaya Profit Instan

Ekonomi | sindonews | Jum'at, 7 Agustus 2026 - 16:52
share

Dunia trading kerap dipenuhi janji manis yang terdengar menggiurkan. Di media sosial, tidak sedikit orang yang memamerkan keuntungan besar dalam waktu singkat. Namun di balik narasi tersebut, risiko penipuan atau scam justru semakin mengintai, terutama bagi para pemula yang belum memahami cara kerja industri ini.

Trader sekaligus edukator Jafar Tri Maulana atau yang dikenal sebagai Japsku mengingatkan, bahwa salah satu kesalahan terbesar masyarakat adalah menganggap trading sebagai jalan pintas menuju kekayaan. Menurutnya, pola pikir seperti itulah yang sering dimanfaatkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab untuk menjebak calon trader.

Jangan Mudah Percaya Profit Instan

Jafar menilai, budaya memamerkan keuntungan besar di media sosial sering kali membentuk persepsi yang keliru. Banyak orang akhirnya tergoda tanpa memahami proses maupun risiko di balik hasil yang ditampilkan.

Baca Juga: Prabowo Puji Thailand Bantu Repatriasi Hampir 1.000 WNI Korban Online Scam"Industri ini butuh kepastian memang. Tidak masalah kalau ada yang memamerkan profit trading besar, tetapi harus punya pikiran bahwa profit instan bukan berarti benar-benar instan. Tidak ada profit instan, rata-rata profit instan akan habis dalam semalam," kata Jafar dalam pernyataan tertulisnya, Selasa (4/8/2026).

Dia menambahkan, tidak sedikit pihak yang memanfaatkan unggahan keuntungan fantastis sebagai cara menarik perhatian pemula. Padahal menurutnya keuntungan yang dipamerkan belum tentu menggambarkan kondisi sebenarnya."Logika sederhananya, seorang guru yang benar-benar guru tidak akan memamerkan keberhasilannya kepada murid yang baru mulai belajar," ujar pemilik akun Instagram @japsku ini.

Pelajari Ilmunya, Bukan Ikut Euforia

Bagi Jafar, langkah pertama agar terhindar dari scam adalah membangun fondasi pengetahuan sebelum terjun ke pasar. Dia menyarankan pemula memahami analisis teknikal, analisis fundamental, hingga manajemen risiko terlebih dahulu. Trading, katanya, tidak boleh dijadikan satu-satunya harapan memperoleh penghasilan.

Baca Juga: Modus Love Scam Jerat Warga RI, Korban Rugi Nyaris Rp50 Miliar

"Belajar basic yang ingin digeluti seperti teknikal, fundamental dan penerapan risk management sambil mengumpulkan modal. Untuk bertahan, jangan hanya mengandalkan trading," tutur pria yang juga memiliki akun TikTok @japsku.com.

Menurut Jafar, masyarakat juga perlu waspada terhadap fenomena fear of missing out (FOMO). Banyak orang masuk ke dunia trading hanya karena melihat orang lain memperoleh keuntungan, tanpa memahami mekanisme maupun risikonya.

Emosi Lebih Berbahaya daripada Strategi

Dalam pandangan Jafar, penyebab utama kegagalan trader bukan semata-mata strategi yang buruk, melainkan ketidakmampuan mengendalikan emosi. Dia menyebut sekitar 80 kerugian dialami karena trader kehilangan kendali saat mengambil keputusan.

"Rata-rata orang rugi di trading bukan karena teknikalnya, tetapi karena dirinya sendiri. Jangan ganti strateginya, tapi ganti pola pikirnya dan terapkan money management," katanya.Karena itu, dia menyarankan setiap trader memiliki jurnal evaluasi untuk mencatat keuntungan maupun kerugian secara rutin. Kebiasaan tersebut dinilai dapat membantu memperbaiki keputusan di masa mendatang sekaligus menghindari tindakan impulsif.

Edukasi Jadi Kunci Menghindari Penipuan

Jafar juga menilai citra negatif trading selama ini muncul karena banyak orang lebih senang mempertontonkan keuntungan dibandingkan membagikan edukasi. Akibatnya, pemula mudah terbawa euforia, masuk ke pasar tanpa bekal yang cukup, lalu mengalami kerugian. Kondisi inilah yang kemudian memunculkan anggapan bahwa trading identik dengan penipuan.

"Industri ini sudah rusak citranya karena banyak yang memamerkan profit, bukan ilmunya. Pemula akhirnya FOMO dan berujung rugi karena kesalahan tersebut," ujar Jafar.

Karena itu, dia mengingatkan masyarakat agar lebih selektif memilih mentor maupun sumber belajar. Edukasi yang benar, menurutnya, jauh lebih penting dibanding tergiur janji keuntungan cepat.

Di akhir keterangannya, Jafar kembali menekankan bahwa trading bukanlah cara instan untuk menjadi kaya. Dia menyebut keberhasilan hanya bisa dibangun melalui proses belajar yang panjang, pengelolaan risiko yang disiplin, serta kemampuan mengendalikan emosi ketika menghadapi dinamika pasar.

Topik Menarik