Ekspor Minyak Saudi ke China Jeblok, Diramal Hanya 333.000 Barel per Hari
Pengiriman minyak mentah Arab Saudi ke China diperkirakan turun tajam pada Juni 2026 menjadi sekitar 10 juta barel atau setara 333.000 barel per hari. Penurunan tersebut dipicu tingginya harga minyak serta masih tertutupnya jalur pelayaran Selat Hormuz yang mengganggu distribusi energi global antara eksportir dan importir minyak terbesar dunia. Chief Executive Officer Saudi Aramco, Amin Nasser mengatakan normalisasi jalur distribusi minyak global tidak akan berlangsung cepat meskipun beberapa rute alternatif mulai digunakan.
"Pembukaan kembali jalur distribusi tidak sama dengan memulihkan pasar yang telah kehilangan sekitar satu miliar barel minyak," kata Amin Nasser seperti dikutip Reuters, Senin (11/5/2026).
Baca Juga:AS Untung Besar dari Krisis Selat Hormuz, Ekspor LPG Tembus Rekor 3,3 Juta Barel per Hari
Volume ekspor Juni tersebut turun drastis dibandingkan Mei yang mencapai sekitar 20 juta barel dan saat itu sudah menjadi level terendah pengiriman minyak Saudi ke China. Sebelum konflik Iran memicu gejolak pasar energi global, Saudi Aramco rutin mengirimkan 45 juta hingga 57 juta barel minyak per bulan ke kilang-kilang di China.
Sejumlah kilang besar China seperti Sinopec dan Sinochem disebut memangkas permintaan pasokan minyak untuk Juni karena harga masih dinilai terlalu tinggi. Meski Arab Saudi telah menurunkan harga jual resmi minyak Arab Light untuk pasar Asia sebesar USD4 per barel menjadi premi USD15,50 di atas acuan Oman/Dubai, angka itu masih di bawah ekspektasi pasar yang berharap pemotongan lebih besar.
Data perdagangan menunjukkan impor minyak mentah China pada April turun 20 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menjadi level terendah sejak Juli 2022. Perusahaan minyak milik negara di China juga dilaporkan memangkas tingkat operasional kilang sekitar 5 dibandingkan bulan sebelumnya sebagai respons terhadap lemahnya permintaan dan tingginya harga energi.
5 Fakta Restrukturisasi Utang Kereta Cepat Whoosh Tuntas hingga Opsi Diambil Alih Kemenkeu
Di sisi lain, lonjakan harga minyak justru mendongkrak keuntungan Saudi Aramco. Perusahaan energi terbesar dunia itu membukukan laba bersih kuartal I-2026 sebesar USD33,6 miliar atau naik 26 dibandingkan tahun sebelumnya, ditopang kenaikan harga minyak dan optimalisasi pipa East-West sepanjang 745 mil yang mengalihkan distribusi minyak dari Teluk Persia ke pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Baca Juga:Mesir Kirim Jet Tempur ke UEA untuk Tembak Jatuh Drone dan Rudal Iran, Ini Respons Teheran
Pipa tersebut mencapai kapasitas penuh sebesar 7 juta barel per hari sejak akhir Maret, dengan sekitar 5 juta barel per hari tersedia untuk ekspor. Jalur alternatif itu menjadi andalan Arab Saudi untuk mempertahankan pasokan di tengah penutupan Selat Hormuz yang disebut International Energy Agency (IEA) sebagai gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global.
Kondisi tersebut memperlihatkan tekanan besar yang masih membayangi pasar energi dunia. Selain memperketat pasokan minyak global, gangguan distribusi di kawasan Timur Tengah juga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi energi dan perlambatan ekonomi di berbagai negara pengimpor utama, termasuk China.










