Driver Ojol Protes THR Cuma Rp50.000, Cek Lagi Penjelasan soal BHR
JAKARTA - Para driver yang tergabung dalam Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI) berencana melakukan protes dan mendatangi Kantor Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) guna menyampaikan ketidakpuasan terhadap besaran Bonus Hari Raya (BHR) untuk mitra ojek online (ojol), taksi online (taksol) dan kurir online (kurol).
Sebab, ada beberapa driver yang hanya mendapatkan THR dalam bentuk BHR Rp50.000.
Namun, banyak kalangan menilai permintaan para mitra ojek online (ojol) tersebut sudah semakin salah kaprah.
Pertama, dengan status sebagai mitra, tidak ada kewajiban apapun bagi perusahaan layanan berbasis aplikasi untuk memberikan bonus atau tunjangan menjelang hari raya. Kedua, BHR yang diberikan saat ini pun secara total nilainya sudah sangat besar yang harus ditanggung oleh perusahaan aplikator.
Ekonom Universitas Airlangga (Unair) Rumayya Batubara menilai berapapun nilai BHR yang diterima, hal ini seharusnya dianggap sebagai pencapaian besar bagi para mitra ojol. Sebab pemberian BHR ini dilakukan tanpa perencanaan sebelumnya. Bahkan di saat ekonomi sedang tidak baik-baik saja, BHR tersebut sudah cair dalam kurun waktu tidak sampai satu bulan.
“Bisa dibayangkan bahwa aplikator harus menanggung beban BHR yang nilainya sangat besar jika dikalikan dengan jumlah driver. Itu sangat berpengaruh pada arus kas perusahaan," kata Rumayya, Rabu (26/3/2025).
1. Pemberian BHR ke Ojol
Menurut Rumayya, pemberian BHR ini sejatinya juga merupakan langkah besar yang menunjukkan keberpihakan pada ojol, taksol dan kurol.
" Ini (pemberian BHR) menunjukkan pengakuan atas pentingnya sektor ojol di mata pemerintah. Selain itu, dalam konteks korporasi, perusahaan aplikator bersedia memenuhi kebijakan BHR meski kondisi ekonomi sedang lesu," ujarnya.
2. Driver Ojol Mau Demo
Namun lanjut Rumayya, driver ojol juga tidak seharusnya terlalu memaksakan kehendaknya yang sebenarnya juga tidak memiliki landasan. Apalagi sampai mengancam sampai melakukan aksi demo lanjutan.
"Kalau ojol demo lagi, rasanya tidak fair bagi perusahaan aplikator. " tambahnya.
Lanjut Rumayya, sejatinya aplikator pun banyak memiliki program apresiasi yang diberikan kepada para mitranya dalam berbagai bentuk seperti insentif. program umrah dan berbagai benefit lainnya.
3. Peran Pemerintah soal BHR
Rumayya juga menyoroti peran pemerintah dalam situasi ini. Menurutnya pemerintah seharusnya berperan sebagai regulator, bukan sebagai pihak yang memanaskan situasi.
"Ojol ini adalah unicorn kita, sektor yang menciptakan lapangan kerja nyata. Dibandingkan sektor minyak atau batu bara, yang dampaknya tidak langsung dirasakan oleh Masyarakat bahkan menetes ke bawah saja tidak. Nah, sektor ojol ini jauh lebih konkret dalam menyerap tenaga kerja," tegasnya.
Untuk itu, seharusnya pemerintah perlu memberikan dukungan nyata kepada perusahaan aplikator, misalnya melalui potongan pajak. Hal ini penting untuk mendorong perusahaan tetap berkontribusi dalam menciptakan lapangan kerja. Bahkan disaat ekonomi lesu dan banyak terjadi PHK di industri lain, ojol menjadi bantalan menopang ekonomi Masyarakat.
IHSG Berakhir Melemah ke Level 6.485
“Kemarin ketemu driver yang sebelumnya bekerja di bagian ekspor-impor selama 13 tahun, dan saat kena PHK, dia jadi mitra ojol. Jadi Aplikator ini menjadi semacam bumper ekonomi, menyerap tenaga kerja di tengah situasi ekonomi yang sulit. Pemerintah perlu memberikan perhatian lebih, jangan hanya memberi tekanan," pungkasnya.
Sebelumnya, Gojek membagikan BHR sejak Sabtu (22/3), sedangkan Grab dimulai pada Minggu (23/3). Tidak semua mitra pengemudi taksi online dan ojol mendapatkan bonus Lebaran mirip Tunjangan Hari Raya atau THR ini.
Untuk kategori tertinggi, mitra Gojek mendapatkan BHR Rp900.000 untuk Mitra roda dua dan Rp1.600.000 untuk Mitra roda empat. Adapun Grab mitra tertinggi yakni Rp800.000 untuk roda dua, dan Rp1.600.000 untuk roda empat.