Atasi Krisis Air Bersih, Anggota DPRK Partai Perindo Bangun Sumur Bor di Mimika
Akses terhadap air bersih masih menjadi persoalan mendasar di sejumlah wilayah Indonesia, terutama di daerah terpencil yang menghadapi keterbatasan infrastruktur. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga berpengaruh terhadap aktivitas pendidikan hingga produktivitas ekonomi warga.
Persoalan tersebut menjadi perhatian dalam agenda reses yang dilakukan Anggota DPRK Mimika dari Partai Perindo, Hj. Rampeani Rachman, S.Pd di Manasari, Ibu Kota Distrik Mimika Timur Jauh, Kabupaten Mimika, Senin (23/3/2026). Dalam pertemuan tersebut, warga Kampung Fanamo dan Omawita menyampaikan kesulitan mendapatkan air bersih sebagai kebutuhan utama sehari-hari.
Menanggapi aspirasi tersebut, Rampeani langsung mengambil langkah konkret dengan merencanakan pembangunan sumur bor sebagai solusi awal untuk menjawab kebutuhan masyarakat di wilayah tersebut.
Baca Juga: Anggota DPRD Romanus Ginting Serahkan Traktor untuk Tingkatkan Produktivitas Petani Karo
"Dalam waktu dekat ini, saya akan bangun dulu satu sumur bor di sana. Kalau nanti airnya bersih dan layak untuk dikonsumsi, maka akan ditambah di beberapa titik lagi untuk masyarakat di Fanamo dan Omawita, termasuk di sekolah YPPK dan sekolah Negeri," ungkapnya. Kondisi keterbatasan air bersih yang dihadapi warga selama ini mendorong perlunya intervensi cepat dan tepat sasaran. Ketergantungan pada air hujan membuat masyarakat berada dalam situasi rentan, terutama saat musim kemarau.
"Selama ini warga mengandalkan air hujan. Namun, ketika tidak ada hujan, maka warga sangat sulit mendapatkan air bersih," ujarnya.
Langkah pembangunan sumur bor yang tengah dipersiapkan tidak hanya difokuskan pada penyediaan fasilitas, tetapi juga memastikan keberlanjutan pemanfaatannya. Untuk itu, Rampeani telah menyiapkan tenaga teknis serta kebutuhan pendukung lainnya guna mempercepat realisasi di lapangan.
Menurut dia, menjawab kebutuhan masyarakat tidak selalu harus melalui program berskala besar, melainkan melalui solusi yang tepat guna dan langsung dirasakan manfaatnya oleh warga. "Tidak perlu yang muluk-muluk, yang penting masyarakat bisa menikmati. Percuma anggaran miliaran rupiah kalau akhirnya tidak bisa digunakan," tegasnya.
Dalam proses penyerapan aspirasi, warga juga menyampaikan kebutuhan lain seperti pembangunan rumah pastor atau pastoran yang dinilai penting untuk menunjang aktivitas sosial keagamaan di wilayah tersebut."Warga juga sampaikan terkait pembangunan Rumah Pastor atau Pastoran. Karena itu, pembangunan Pastoran ini juga menjadi perhatian serius saya sebagai wakil rakyat," ucapnya.
Inisiatif pembangunan sumur bor ini sejalan dengan program Partai Perindo bertajuk “Sumber Air Kehidupan”, yang menempatkan akses air bersih sebagai kebutuhan pokok yang tidak bisa ditawar. Program ini diwujudkan melalui pembangunan di 11 titik di berbagai daerah sebagai upaya nyata menghadirkan solusi atas krisis air bersih.
Sebagai langkah awal, program ini telah dimulai sejak September 2025 di Desa Watuliwung, Kecamatan Kangae, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang selama bertahun-tahun menghadapi keterbatasan akses air bersih. Kehadiran program tersebut terbukti memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesehatan serta membuka peluang perbaikan kesejahteraan masyarakat.
Kondisi yang dihadapi warga Fanamo dan Omawita menunjukkan tantangan serupa, di mana kebutuhan dasar belum sepenuhnya terpenuhi meskipun telah ada berbagai program pembangunan sebelumnya. Sejumlah warga mengungkapkan bahwa fasilitas air bersih yang dibangun sejak 2022 hingga 2024 belum dapat dimanfaatkan secara optimal.
Situasi ini mempertegas pentingnya pendekatan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada anggaran, tetapi juga pada efektivitas dan kebermanfaatan di tingkat masyarakat. Melalui langkah yang diambil, diharapkan akses air bersih dapat segera terwujud dan menjadi fondasi dalam meningkatkan kualitas hidup warga secara berkelanjutan.










