Nasional |

JAKARTA – Wakil Presiden RI (Wapres RI) ke-13 KH Ma'ruf Amin menyampaikan khutbah Shalat Idulfitri 1447 H di Lapangan Balai Kota Jakarta pada Sabtu (21/3/2026). Dalam khutbahnya, beliau membahas mengenai perbedaan dalam kehidupan bangsa Indonesia.

"Kehidupan bangsa kita adalah kehidupan yang majemuk, ada banyak suku, ada banyak budaya, ada banyak latar belakang. Jika perbedaan itu tidak dikelola dengan baik, ia bisa menjadi konflik. Tapi jika perbedaan dirajut dengan silaturahmi, ia menjadi harmoni kehidupan seperti sebuah simfoni," ujar Ma'ruf Amin di Balai Kota Jakarta, Sabtu.

Ma'ruf Amin mengatakan bahwa dalam kehidupan bermasyarakat, perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipersatukan dalam harmoni. Itulah yang disebut sebagai simfoni kemenangan. Selama Ramadan yang penuh ibadah dan amal saleh, seseorang kembali kepada fitrahnya. Namun, untuk bisa menjadi fitrah setiap saat bukan perkara mudah.

"Ada saja halangan dan rintangan untuk bisa mencapai hal itu. Oleh karena itu, setiap orang beriman disyariatkan untuk selalu memohon petunjuk Allah SWT. Keimanan seorang muslim tidak selalu dalam keadaan konstan, ajek, konsisten. Ia dinamis, kadang naik dan kadang turun. Oleh karena itu, kita selalu mohon kepada Allah agar diberikan petunjuk ke jalan yang lurus," tuturnya.

 

Beliau menerangkan, jalan yang lurus maksudnya jalan yang memungkinkan seseorang menjalankan semua ketentuan Allah secara paripurna, tanpa memilah dan memilih sesuai kecondongan hati. Bukan hanya terkait ibadah ritual, tetapi juga muamalah, baik ekonomi, politik, maupun sosial budaya.

"Semua itu tidak lain adalah upaya kita secara sungguh-sungguh untuk kembali kepada fitrah kita, kepada jati diri kemanusiaan kita, untuk tunduk dan patuh pada semua ketentuan Allah. Di momen yang baik dan berkah ini, di Hari Raya Idulfitri, marilah kita bermohon kepada Allah SWT dengan sungguh-sungguh. Semoga kita semua senantiasa diberi kekuatan dan keistiqamahan untuk menjaga keimanan dan keislaman kita, tunduk dan patuh pada semua ketentuan Allah sampai napas terakhir keluar dari jasad kita," jelasnya.

Ma'ruf menambahkan, ibadah Ramadan memang berat menghadapi ujian dan tuntutan yang harus dilakukan. Namun, lebih berat lagi menjaga keberlangsungan dan keistiqamahan sampai menghadapi sebelas bulan yang akan datang agar bisa tetap berjalan di atas jalur Ramadan, yaitu di jalan Allah sesuai petunjuk-Nya.

 

"Kata Allah, siapa yang berjalan di atas petunjuk-Ku, dia tidak akan mengalami rasa takut menghadapi masa depan yang tidak jelas maupun masa lalu yang penuh kegagalan dan tantangan yang tidak dapat kita penuhi. Di ayat lain, Allah mengatakan juga siapa yang berjalan di atas jalan-Ku, dia tidak akan tersesat dan tidak akan celaka," katanya.



Original Article


#nasional