Nasional |

Penulis: Ahmad Setyono – Alumni Ilmu Hubungan Internasional Unair & Magister Ilmu Komunikasi

JAKARTA - Media nasional dan internasional pada Senin petang (2 Maret 2026) menurunkan headline mengenai jatuhnya sejumlah pesawat tempur F-15 milik Amerika Serikat di Kuwait. Insiden tersebut disebut sebagai salah sasaran atau tembakan tidak sengaja. Mengutip pernyataan United States Central Command (CENTCOM), tiga pesawat F-15E Strike Eagle yang terbang untuk mendukung Operasi Epic Fury ditembak jatuh oleh Kementerian Pertahanan Kuwait dalam insiden yang “tampaknya merupakan tembakan salah sasaran”.

Keunggulan IRGC?

Operasi Epic Fury disebut sebagai operasi gabungan Israel–Amerika yang sedang berlangsung melawan Iran. Namun, benarkah insiden tersebut murni kesalahan teknis atau human error? Sejumlah kalangan meragukan narasi tersebut.

Adam Cochran, analis independen, menulis di platform X bahwa laporan tersebut bisa jadi merupakan upaya menutupi fakta yang lebih kompleks. Menurutnya, Kuwait memiliki tiga jenis sistem pertahanan udara: Patriot, HAWK yang telah dimodernisasi, dan SHORAD.

Sistem SHORAD dinilai tidak cukup andal untuk menjatuhkan F-15. Sistem HAWK yang disempurnakan memang berpotensi mengenai F-15, tetapi karena membutuhkan iluminasi radar terus-menerus, pilot biasanya akan menerima peringatan penguncian radar, menyebarkan chaff, mengaktifkan ECM, dan melakukan manuver penghindaran. Dengan demikian, kemungkinan HAWK menjatuhkan tiga pesawat sekaligus dinilai sangat kecil.

Adapun sistem Patriot memang memiliki kemampuan lebih andal untuk menghantam target seperti F-15. Karena itu, Cochran mengajukan dua hipotesis. Pertama, Amerika Serikat mengambil keputusan operasional yang mengabaikan prosedur standar, tidak berbagi data secara optimal dengan sekutu, dan mempertaruhkan keselamatan personelnya sendiri. Kedua, serangan Iran jauh lebih berhasil daripada yang diakui Washington, termasuk kemungkinan merusak infrastruktur identifikasi dan komunikasi aset militer AS di Kuwait.

Narasi kedua ini sejalan dengan pemberitaan media pemerintah Iran yang mengutip Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), yang mengklaim angkatan bersenjata Iran menembak jatuh pesawat AS di wilayah Kuwait.

Apa pun kebenarannya, seperti perang-perang besar sebelumnya, konfrontasi Amerika Serikat–Israel versus Iran tidak hanya berlangsung di medan militer. Ia juga berlangsung di ranah persepsi—atau dengan kata lain, perang media.

 

Perang Media: Dua Pertiga dari Pertempuran

Dalam Perang Teluk 1991, khususnya Operation Desert Storm, peran CNN sangat krusial dalam membangun persepsi global tentang perang tersebut. Terlepas dari fungsi jurnalistiknya sebagai penyampai informasi dari lokasi kejadian, media turut membentuk cara dunia memahami konflik.

Di era media digital saat ini, pertempuran di platform media baru menjadi instrumen strategis untuk meraih kemenangan. Dalam perang di Gaza, Israel tidak hanya menargetkan Hamas, tetapi juga infrastruktur media, bahkan jurnalis. Tindakan semacam itu tentu tidak dapat dibenarkan dan melanggar norma serta hukum internasional. Namun dalam konteks propaganda dan pembentukan opini, informasi memang menjadi kunci.

Dalam teori komunikasi, opini publik berangkat dari apa yang disebut Walter Lippmann sebagai “pictures in our heads”—gambaran mental manusia tentang realitas. Manusia merespons bukan pada realitas objektif itu sendiri, melainkan pada citra yang terbentuk dalam pikirannya.

Kita menyaksikan bagaimana Donald Trump hampir setiap hari menyampaikan pandangan dan kebijakan melalui media sosial. Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, juga aktif di berbagai platform dengan akun dalam empat bahasa: Persia, Arab, Inggris, dan Ibrani. Ini menunjukkan bahwa di era konvergensi media, hampir tidak ada tokoh dunia yang absen dari media sosial.

Media sosial menjadi alat strategis: membangun personal branding, berkomunikasi langsung dengan publik tanpa perantara, serta menyebarkan pesan secara cepat dan masif. Platform seperti X dan Instagram dimanfaatkan untuk membentuk opini publik, menjalankan kampanye politik, dan menjaga citra global.

 

Dalam konteks konflik AS–Israel versus Iran, tidak mengherankan jika pusat-pusat media di Teheran menjadi sasaran, sebagaimana dilaporkan sejumlah media Iran. Menurut jurnalis Irak, Sulaiman al-Fahdi, perang media tidak boleh diremehkan karena ia merupakan “dua pertiga dari pertempuran”. Kata-kata dapat mendahului peluru, gambar dapat mengubah kesadaran bangsa, dan rumor dapat mengguncang front tanpa satu tembakan pun dilepaskan.

Menargetkan media bukanlah kebetulan, melainkan strategi untuk meruntuhkan moral, menebar ketakutan, memelintir fakta, dan menciptakan realitas yang menguntungkan pihak tertentu. Pertempuran hari ini berlangsung bukan hanya di darat dan udara, tetapi juga di pikiran dan hati.

Tujuh puluh tahun lalu, dalam karya klasik The Image: Knowledge in Life and Society, Kenneth E. Boulding menegaskan bahwa tindakan manusia didasarkan pada citra tentang realitas, bukan realitas itu sendiri. Perilaku manusia bergantung pada bagaimana ia memandang dunia, bukan semata-mata pada fakta objektif.

Pertanyaannya, apakah faktor citra (image) turut memengaruhi keputusan para pemimpin seperti Trump dan Netanyahu dalam mengambil langkah konfrontatif terhadap Iran? Jawabannya mungkin tidak sederhana.

Yang jelas, melihat eskalasi pertempuran dalam beberapa hari terakhir, sulit memprediksi kapan konflik ini akan berakhir dan bagaimana ujungnya. Namun satu hal yang hampir pasti: postur dan konstelasi politik Timur Tengah ke depan akan sangat berbeda dari hari ini, terutama bagi negara-negara Teluk.



Original Article


#nasional