Nasional |

SUKOHARJO, iNews.id - Perajin genting tanah liat di Desa Wirun, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah menyambut baik Program Gentengisasi yang digagas Prabowo Subianto. Salah satunya Maryono (52) perajin genting tanah liat yang terus bertahan menjaga usaha turun-temurun di tengah persaingan atap seng dan berbagai kendala produksi.

Usaha genting tanah liat tersebut telah dirintis sejak zaman ayahnya dan menjadi warisan yang harus dijaga. Usaha yang dia kelola bukan sekadar mata pencaharian, tetapi juga napas hidup bagi belasan keluarga.

“Meneruskan usaha Ayah, ini turun temurun. Rata-rata (produksi) per harinya 800-900, empat pekerja,” ujar Maryono, Selasa (17/2/2026).

Saat ini, produksi harian genting tanah liat mencapai 800 hingga 900 buah dengan empat pekerja. Jika seluruh mesin dioperasikan, kapasitas produksi bisa meningkat dan menyerap lebih banyak tenaga kerja.

“Kalau proses pembikinan berhubung cuma 5 orang, jadi satu mesin. Kita punya 3 mesin. Jadi, 15 tenaga,” katanya.

Maryono mengenang masa ketika genting tanah liat menjadi pilihan utama masyarakat. Pesanan datang silih berganti dan usaha berjalan stabil tanpa banyak hambatan.

“Kalau dulu enak Pak, prosesnya. Kan sekarang itu pesaingnya itu genting dari seng. Itu kita habis, banyak kan pada gulung tikar, Pak. Soalnya pada beralih ke seng,” katanya.

Persaingan dengan atap seng membuat banyak perajin genting tanah liat gulung tikar. Selain itu, distribusi solar yang kian sulit turut menambah beban produksi.

“Terus kendalanya, kalau dulu enggak ada kendala soalnya kita beli solar, minyak, itu paling penak dari dulu, Pak. Kalau sekarang susah cari solar,” ucapnya.

Ketika tidak mendapatkan solar bersubsidi, dia terpaksa membeli dari tengkulak dengan harga Rp8.000 hingga Rp8.500 per liter. Kondisi itu membuat biaya produksi semakin membengkak.

Meski demikian, bahan baku tanah liat masih relatif mudah diperoleh dari sawah dan kampung sekitar. Dalam sebulan, usaha genting tanah liat ini mampu memproduksi sekitar 30.000 genteng dengan upah pekerja Rp70.000 hingga Rp80.000 per hari termasuk makan.

Di tengah tekanan tersebut, Maryono mengaku mendapat harapan baru setelah mendengar rencana program Gentengisasi dari Presiden Prabowo Subianto. Dia mengetahui informasi itu dari YouTube.

“Jadi dari program Pak prabowo itu kita dapat kayak angin segar. Kalau bisa lanjutkan, Pak. Dengar dari Youtube itu, Pak. Dari Presiden. Dari lima Presiden, dari Pak Harto (Soeharto) sampai sekarang. Yang memikirkan genting cuma Pak Bowo (Prabowo),” ujarnya.

Dia menilai perhatian terhadap industri genting tanah liat penting agar perajin kecil tidak semakin terpinggirkan. Menurutnya, genting tanah liat lebih kuat dibanding seng saat diterpa angin kencang.

“Suka banget. Jolos, mantap, Pak. Lanjutkan. Kita masyarakat itu diperhatikan banget kalau ada gitu. Enggak kayak dulu itu enggak ada. Kita kayak terabaikan. Ya, usaha-usaha genting lokal itu bisa naik lagi, Pak. Enggak kayak kali ini kan sudah pada yang belum kita bisa kerja lagi. Enggak nganggur, gitu,” katanya.

Maryono memiliki dua anak, satu hampir kuliah dan satu lagi duduk di kelas tiga SMP. Dia menyebut keberlangsungan usaha genting tanah liat bukan hanya soal keuntungan, tetapi juga tanggung jawab sosial.

“Kayak saya itu ibaratnya bisa menghidupkan 15 kepala keluarga, Pak. Tenaga (kerja) saya kan sudah nikah semua, punya anak semua,” ucapnya.

Di akhir perbincangan, dia menyampaikan doa dan terima kasih atas rencana program gentengisasi tersebut. Harapannya, usaha genting tanah liat di Sukoharjo bisa kembali bangkit dan memberi manfaat bagi lebih banyak keluarga.

“Untuk Pak Presiden Prabowo yang terhormat, yang kita cintai, terima kasih, Pak, atas program Gentengisasi. Semoga masyarakat Soekarjo lebih maju, lebih makmur dari yang dulu. Sekarang kalau ada program itu lebih makmur. Jaya, jaya, Pak Prabowo, jaya! Sehat selalu ya, Pak Presiden. Kita dari rakyat itu cuma mendoakan agar Bapak sehat selalu. Sehat-sehat selalu ya, Pak Presiden,” ujarnya.



Original Article


#jateng