JAKARTA – Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Yusharto Huntoyungo, menekankan pentingnya membangun learning organization bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) sebagai fondasi peningkatan kinerja dan daya adaptasi organisasi.
Konsep learning organization, dijelaskan Yusharto, merujuk pada pemikiran Peter Senge dalam buku The Fifth Discipline, yang menekankan lima disiplin utama agar organisasi mampu terus berkembang dan beradaptasi dengan perubahan.
“Konsep learning organization menjadi sangat relevan bagi BSKDN sebagai organisasi kebijakan yang dituntut untuk terus belajar, beradaptasi, dan memperbaiki kualitas kinerjanya. Fifth discipline dari Peter Senge bisa kita pelajari guna menjadikan organisasi untuk terus bertumbuh,” kata Yusharto lewat siaran pers, Sabtu (7/2/2026).
Penegasan tersebut disampaikan Yusharto dalam kegiatan Peningkatan Kapasitas ASN di Lingkungan BSKDN bertema “Membangun Learning Organization ASN melalui Teamwork Kolaboratif dan Kepemimpinan Transformatif” di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat Jumat 6 Februari 2026.
Ia memaparkan, disiplin pertama adalah personal mastery, yaitu penguasaan bidang tugas secara profesional oleh setiap ASN, baik struktural maupun fungsional. “Di setiap posisi ini, kita harus mastery menguasai bidang tugas dan ini menjadi salah satu prasyarat untuk kita bisa melakukan learning organization,” ujarnya.
Sementara disiplin kedua adalah mental model, yang menekankan keselarasan cara berpikir individu dengan visi dan misi organisasi agar tujuan personal dan tujuan organisasi dapat berjalan seiring.
Disiplin ketiga, shared vision, dinilai penting untuk memastikan kesamaan arah antara pimpinan dan pelaksana. Kesamaan visi tersebut hanya dapat dibangun melalui komunikasi dan koordinasi yang konsisten.
Selanjutnya, disiplin keempat, team learning, menempatkan kerja tim sebagai bagian integral dari proses pembelajaran organisasi. Disiplin kelima, yakni system thinking, mendorong ASN untuk berpikir secara menyeluruh dan tidak terpaku pada satu sudut pandang, sehingga kebijakan yang diambil dapat mempertimbangkan berbagai perspektif.
“Dengan demikian lewat kegiatan ini saya berharap pemikiran awal dari fifth discipline yang melahirkan learning organization diikuti dengan pemikiran-pemikiran yang lain yang menunjang, fifth discipline ini akan terus kita kembangkan, pada organisasi kita,” katanya.
Deputi Bidang Penyelenggaraan Pengembangan Kapasitas ASN Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI, Tri Widodo W. Utomo, mengungkapkan, konsep learning organization tetap relevan hingga saat ini.
“Modal kapital itu bukan lagi segalanya. Yang menjadi penentu utama adalah skill, capabilities, dan knowledge of people,” ujarnya.
Sehingga kualitas sumber daya manusia sangat penting dalam menentukan kinerja organisasi.