Nasional |

NGADA, iNews.id - Suasana duka masih menyelimuti rumah keluarga YBR (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang ditemukan meninggal dunia dengan cara gantung diri di pohon cengkeh milik warga. Sang ibu mengenang detik-detik terakhir sebelum tragedi memilukan itu terjadi.

Ibu kandung korban, Maria Goreti Te’a (47), menceritakan pagi terakhir sebelum anaknya ditemukan meninggal dunia. Saat itu, YBR mengeluh pusing dan sempat menolak berangkat ke sekolah.

Meski demikian, karena khawatir anaknya tertinggal pelajaran, Maria tetap meminta YBR untuk masuk sekolah. Ia bahkan mengantarkan putranya menggunakan ojek agar bisa mengikuti kegiatan belajar seperti biasa.

Namun, siang harinya kabar duka datang tanpa peringatan dan menghantam keluarga. YBR ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di pohon cengkeh dekat pondok sederhana tempat tinggalnya bersama sang nenek.

"Saya tidak merasa ada sesuatu yang aneh hari itu. Dia hanya sempat tanya pada hari Senin tentang PIP apa sudah terima," ujarnya, Kamis (5/2/2026).

PIP merupakan Program Indonesia Pintar, yakni bantuan pendidikan dari pemerintah bagi siswa dari keluarga miskin dan rentan agar tetap bisa bersekolah.

Maria mengaku telah menjelaskan kepada anaknya bahwa bantuan tersebut belum diterima. Dia juga menyampaikan bahwa kebutuhan sekolah tahap pertama sudah dibayarkan.

"Saya bilang PIP belum terima. Uang dari mana? saya minta keterangan dari desa dulu. Untuk tahap pertama uang sekolah sudah lunas, nanti berikutnya kalau PIP sudah cair," katanya.

Dalam keseharian, selain bersekolah, YBR kerap membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar. Untuk makan sehari-hari, mereka mengandalkan hasil kebun seadanya, dengan pisang dan ubi sebagai menu paling sering.

Keterangan warga menyebutkan, keluarga YBR hidup dalam tekanan ekonomi berkepanjangan sejak ditinggalkan kepala keluarga. Kondisi ini membuat pengasuhan anak-anak terpisah, pendampingan emosional minim serta akses pendidikan menjadi terbatas.

Ironisnya, keluarga tersebut juga tercatat luput dari berbagai bantuan pemerintah, baik bantuan rumah layak huni, bantuan pendidikan, maupun bantuan sosial lainnya.

Sementara itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya siswa SD Ngada tersebut. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menyebut peristiwa ini sebagai keprihatinan bersama.

"Kemendikdasmen memandang peristiwa ini sebagai kejadian yang sangat serius, serta mengingatkan bahwa kesejahteraan psikososial anak merupakan isu yang kompleks," kata Atip, Rabu (4/2/2026).

Menurut Atip, kondisi emosional anak dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkaitan. Oleh karena itu, diperlukan perhatian dan dukungan berkelanjutan dari keluarga, sekolah, masyarakat, hingga negara.

Dia menjelaskan, korban tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP) yang dananya telah disalurkan sesuai mekanisme.

"Sebagai bagian dari kebijakan afirmasi pendidikan, mendiang murid tercatat sebagai penerima manfaat Program Indonesia Pintar (PIP), yang dananya telah disalurkan sesuai mekanisme yang berlaku," ujarnya.

Meski demikian, Kemendikdasmen menegaskan perlindungan anak tidak cukup hanya dengan dukungan finansial, melainkan juga membutuhkan pendampingan psikososial, perhatian moral, dan lingkungan tumbuh kembang yang suportif.

"Saat ini, Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah bersama perangkat daerah terkait untuk melakukan pendampingan kepada keluarga termasuk menyiapkan dukungan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya," tuturnya.

"Selain itu, koordinasi lintas sektor juga dilakukan untuk memastikan keluarga mendapatkan akses layanan sosial dan pendidikan yang dibutuhkan," katanya lagi.

Diketahui, korban berinisial YBS (10) ditemukan meninggal dunia pada Kamis (29/1/2026) siang. Dalam olah tempat kejadian perkara, polisi menemukan sepucuk surat tulisan tangan menggunakan bahasa daerah Ngada yang diduga ditulis korban untuk ibunya dan berisi pesan perpisahan.

Tragedi ini pun menjadi pengingat penting bagi semua pihak tentang dampak kemiskinan, minimnya pendampingan emosional, serta pentingnya kehadiran negara dalam melindungi anak-anak dari keluarga rentan.



Original Article


#regional