JAKARTA – Banjir dan tanah longsor melanda 22 desa di lima kecamatan di Kabupaten Halmahera Utara, Provinsi Maluku Utara, pada Rabu (7/1/2026) pukul 20.00 WIT, menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
“Tercatat satu warga meninggal dunia akibat kejadian ini,” ungkap Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan tertulisnya, Jumat (9/1/2026).
Aam, sapaan Abdul Muhari, mengatakan bahwa Pusdalops BPBD Kabupaten Halmahera Utara mencatat sebanyak 1.216 unit rumah terendam, 20 rumah rusak berat, satu rumah rusak sedang, dua rumah rusak ringan, dan 11 fasilitas umum terdampak.
“Sebanyak 71 kepala keluarga (KK) atau 282 jiwa di Desa Togawa, Kecamatan Galela Selatan, mengungsi secara mandiri ke rumah kerabat dan pasar desa setempat,” ujarnya.
Aam mengatakan petugas di lapangan mengalami kendala dalam melakukan penanganan darurat karena beberapa akses jembatan terputus, antara lain jembatan yang menghubungkan Desa Posiposi dan Desa Tate, serta jembatan Kali Baru di Desa Doduwo.
Selain itu, longsoran di tepian jalan menuju Kecamatan Loloda Utara menutup badan jalan sehingga tidak dapat dilewati kendaraan roda empat. Sementara itu, alternatif jalur laut masih terkendala cuaca buruk.
Petugas berupaya menembus akses yang terputus menuju desa-desa terdampak dengan menggunakan rakit. Selain itu, mereka juga terus berkoordinasi dengan instansi terkait seperti TNI, Polri, dan Dinas Sosial.
Merespons laporan kejadian bencana banjir dan longsor di beberapa daerah, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi.
“Masyarakat diminta menjauhi wilayah rawan dan segera melakukan evakuasi mandiri apabila terjadi kondisi darurat. Sementara itu, pemerintah daerah diharapkan memastikan kesiapan personel, sarana prasarana, serta pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak sebagai langkah kesiapsiagaan menghadapi bencana,” imbau Aam.